HEADLINES NEWS :

Anda Kurang Informasi?

cuma asybook situs yang menyajikan berbagai macam informasi, mulai dari Berita, Pengetahuan dan Artikel menarik lainya.

services for your logistic needs

Alpha Pacific Transportation Group has been connecting Indonesia to the world. We pride ourselves as innovative solution providers to our partners and customers in gaining access to Indonesia. alphapacificgroup.com.

lets exchange ads

asybook provides space for your ads. Please click on the image or contact us in the comments field - asads.

Earn money from your blog

Ad5ve is targeted to global advertisers. We have partnerships with multiple websites spread across the world, that allocate areas on it's pages to display ads processed by Ad5ve. - http://www.ad5ve.com.

Free Sign Up

berbahagialah! Karena asybook kini mengundang anda untuk bergabung menjadi penulis, setiap penulis akan mendapat link aktif dan existensi yang luar biasa. Gabung sekarang!

Rumah IMPIAN Anda! Konsep Resort Terbaik

Dengan lahan seluas 1,2 hektar, Club house sebagai ikon. de'minimalist sentul resort. www.deminimalist.com

Anda butuh jasa desain grafis murah?

Dengan menggunakan jasa desain anda dapat menghemat waktu dan mendapatkan hasil desain yang berkualitas karna di desain oleh desainer profesional.

mohon
Tampilkan postingan dengan label Materi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi. Tampilkan semua postingan

Ini Cara Mengungkapkan Keinginan Atau Rencana Menggunakan Bahasa Inggris

Cara Mengungkapkan Keinginan Atau Rencana Menggunakan Bahasa Inggris - Untuk mengungkapkan atau mengatakan cita – cita yang ada di masa depan memakai bahasa Inggris, saya pikir teman-teman bisa memakai jenis-jenis stylenya dibawah ini. Tentunya, masing-masing cara dipakai dalam peristiwa yang berbeda. Ingin tahu dengan tekniknya? Langsung saja simak pembahasan singkatnya berikut ini.
 
Menggunakan Will
Pakailah will saat kita mengucapkan keputusan saat ini juga dan saat kita menyatakan sebuah keputusan tanpa rencana yang sudah dibuat sebelumnya.
  1. This present was sent by Dina. I will thank to her later.
  2. Hey, the telephone is ringing. I will lift it up.
  3. I will purchase some bread on the grounds that we don’t have any bread.
  4. I am so tired. I will go out.
Menggunakan Going to
Going to dipakai untuk menyatakan atau mengatakan aktivitas yang sudah direncanakan sebelumnya.
  1. My mother sent me a content and I am going to telephone her when I completed my work this evening.
  2. I am going to go to Japan one year from now.
  3. The police are going to catch you. I heard their arrangement the previous evening.
  4. I am going to climb Rinjani one month from now.
  5. I am going to take the letter on the off chance that he wouldn’t like to do it.
Menggunakan Present continuous
Kita biasa memakai present continuous saat mengatakan rencana yang akan dilakukan bersama dengan orang lain. So, present continuous tidak hanya dipakai untuk membicarakan tentang apa yang sedang terjadi hari ini, Tetapi juga tentang rencana di masa depan.
  1. I am on the shoreline party tomorrow. Will you come?
  2. We are doing homework this weekend.
  3. She is eating with me this evening.
  4. I am taking an excursion to London one year from now with my dad.
Iya itulah tadi Ini Cara Mengungkapkan Keinginan Atau Rencana Dalam Bahasa Inggris. Semoga bisa memberikan manfaat untuk pembaca semua.


Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (ISBD) BAB I

Mata Kuliah Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar (ISBD)


BAB 1
PENGANTAR ISBD

TUJUAN PEMBELAJARAN

setelah melakukan pembelajaran ini, diharapkan mahasiswa mampu :

  1. mengemukakan kompetensi dasar dan pokok substansi kajian sebagai ruang lingkup ISBD 
  2. menjelaskan pentingnya ISBD sebagai kelompok mata kuliah berkehidupan bermasyarakat (MBB) dan program pendidikan umum perguruan tinggi. 
  3. menggunakan ISBD sebagai sudut pandang alternative atas pemecahan masalah social dan budaya.


MATERI PEMBELAJARAN

A. Hakikat dan ruang lingkup ISBD
B. ISBD sebagai MBB dan penddikan umum
C. ISBD sebagai alternative pemecahan masalah social budaya.


KATA-KATA KUNCI
Ilmu social dasar, ilmu budaya dasar, kompetensi, matakuliah berkehidupan masyarakat, system nilai budaya.
pada bagian pertama buku ini, akan diuraikan topic mengenai pengantar kuliah ilmu social dan budaya dasar (ISBD)sebelum menguraikan lebih lanjut materi-materi pokok yang ada dalam substansi kajian ISBD. bagian pengantar ini dimaksudkan untuk memberikan penjelasan umum mengenai mata kuliah ISBD. dalam pengantar ini akan disajikan mengenai hakikat dan ruang lingkup ISBD, ISBD sebagai MBB dan pendidikan umum, dan ISBD sebagai alternative pemecahan masalah dan social budaya.

A. HAKIKAT DAN RUANG LINGKUP ISBD

  1. Hakikat ISD dan IBD secara garis besar ilmu dan pengetahuan dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu:
a. ilmu alamiah (natural sciences)
b. ilmu social (social sciences)
c. pengetahuan budaya (the humanistic) 

ilmu social dasar (ISD) termasuk dalam kelompok ilmu social. namun, ISD tidak bersifat sebagai pengantar kea rah suatu bidang disiplin ilmu social sebagaimana pengantar ilmu politik, pengantar antropologi, pengantar sosiologi, dan sebagainya. ISD menggunakan pengertian yang berasal dari berbagai disiplin ilmu untuk menanggapi masalah-masalah social, khususnya yang dihadapi masyarakat Indonesia.

ISD mempunyai tema pokok, yaitu hubungan timbale balik manusia dengan lingkungannya. adapun objek sasaran atau objek kajian ISD adalah sebagai berikut.

  • berbagai kenyataan bersama merupakan masalah social yang dapat ditanggapi melalui pendekatan sendiri maupun pendekatan antarbidang (interdisiplin). 
  • keanekaragaman golongan dan kesatuan social dalam masyarakat yang masing-masing memiliki kepentingan dan kebutuhan sendiri, tetapi terdapat juga persamaan kepentingan yang dapat mengakibatkan kerjasama dan pertentangan.
intinya, matakuliah ISD adalah upaya untuk memberkan pengetahuan dasar dan pengetahuann umum tentang konsep-konsep yang dikembangjan untuk mengkaji gejala-gejala social sehingga daya tangkap, presepsi, dan penalaran mahasiswa terhadap lingkungan social meningkat, dengan demikian kepekaan sosialnya pun bertambah.

tujuan matakuliah ISD adalah membantu perkembangan wawasan pemikiran dan kepribadian mahasiswa agar memperoleh wawasan pemikiran yang lebih luas dan cirri-ciri kepribadian yang diharapkan dari setiap tingkah laku manusia dalam menghadapi manusia lain, serta sikap dan tingkah laku manusia lain terhadap manusia yang bersangkutan.

ilmu budaya dasar (IBD) dalam kelompok ilmu pengetahuan termasuk dalam kelompok pengetahuan budaya (the humanistic), tetapi tidak identik dengan pengetahuan budaya itu sendiri. IBD berbeda dengan pengetahuan budaya. pengetahuan budaya mengkaji masalah masalah nilai manusia sebagai makhluk berbudaya,sedangkan IBD mengkaji masalah kemanusiaan dan budaya. IBD budaya ialah suatu pengetahuan yang menelaah berbagai masalah kemanusiaan dan budaya, dengan menggunakan pengertian yang berasal dari dan telah dikembangkan oleh berbagai bidang ilmu pengetahuan atau keahlian. 

adapun yang menjadi pokok kajian IBD adalah berbagai aspek kehidupan yang seluruhnya merupakan ungkapan masalah kemanusiaan dan budaya serta hakikat manusia yang satu. termasuk pula didalamnya pemahaman akan system nilai budaya, yaitu konsepsi tentang nilai yang hidup dalam pikiran sebagian besar masyarakat. system nilai budaya berfungsi sebagai pedoman bagi sikap mental, pola piker dan pola prilaku warga masyarakat.

IBD merupakan suatu upaya memberikan pengetahuan dasar dan umum mengenai konsep-konsep budaya untuk menkaji masalah kemanusiaan dan budaya. pendekatan pokok kajian IBD dilakukan dengan menggunakan pengetahuan dasar dan umum tentang konsep budaya dari berbagai keahlian pengetahuan buadaya maupun degan menggunakan masing-masing keahlian dalam pengetahuan budaya.
tujuan IBD adalah mengembangkan kepribadian mahasiswa dengan cara memperluas wawasan pemikiran dan kemampuan kritikalterhadap masalah-masalah budaya sehingga daya tangkap, presepsi, dan penalaran budaya mahasiswa menjadi halus dan manusiawi.
namun dalam rangka evektifitas dan keterpaduan maka sesuai SK dirjen dikti no 44/2006 pengorganisasian materi maupun teknik penyajiannya digabungkan menjadi ISBD. dengan demikian ISBD dapat dikatakan sebagai paduan atau integrasi dari kajian ISD dan IBD. sebgai integrasi dari ISD dan IBD , ISBD memiliki kompetensi dasar menjadi ilmuan yang professional, yakni yang berfikir kritis, kreatif, sistematik dan ilmiah, berwawasan luas, etis, serta memiliki kepekaan dan empati terhadap solusi pemecahan masalah social dan budaya secara arif (SK dirjen Dikti No, 44 tahun 2006). 
   
2. Ruang lingkup ISD,IBD, dan ISBD ISD memberikan dasar-dasar pengetahuan kepada manusia yang diharapkan akan cepat tanggap serta mampu menghadapi dan menanggulangi masalah-masalah dalam kehidupan masyarakat (masalah social). dengan mengetahui dan mengorientasikan diri kedalamnya, paling tidak ia harus mempu mengetahui kea rah mana pemecahan jalan keluar suatu permasalahan yang dihadapi.
karena, bagaimanapun juga pada saat ini masalah-masalah social telah berkembang sedemikian kompleksnya. mulai dari ruang lingkup local, regional, nasional, maupun internasional. 

ruang lingkup materii yang disajikan dalam ISD meliputi :

  1. individu, keluarga, dan masyarakat. 
  2. masyrakat desadan masyarakat kota 
  3. masalah penduduk 
  4. pelapisan social 
  5. pemuda sosialisasi 
  6. ilmu pengetahuan,teknilogi, dan kemiskinan.
berdasarkan hasil konsorsium pada lokakarya tahun 1982, ditetapkan behwa matakuliah IBD adalah usaha yang diharapkan dapat memberikan bekal pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah budaya.
seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa IBD bukanlah pengetahuaan mengenai budaya. jadi materi yang disajikan bukanlah tema atau topic tentang kebudayaan. yang dijadikan pokok kajian IBD adalah aspek kehidupan yang seluruhnya merupakan ungkapan, maupun masalah kemanusian dan budaya, hakikat manusia yang satu, serta system nilai budaya. ruang lingkup yang dijadikan tema dalam matakuliah IBD mencakup hal-hal berikut.
  • manusia dan pandangan
  • manusia dan keindahan 
  • manusia dan keadilan 
  • manusia dan cinta kasih 
  • manusia dan tanggung jawab 
  • manusia dan kegelisahan 
  • manusia dan harapan
kemudian, ketika materi ISD dan IBD di gabung menjadi ISBD maka sesuai dengan konsep kurikulum berbasis kompetensi memuat sejumlah substansi kajian yang mengarah pada tercapainya kompetensi dasar. artunya, bahwa pemberian substansi kajian atau ruang lingkup kajian ISBD yang ada kepada mahasiswa diharapkan dapat mencapai kompetensi dasar matakuliah yang dimaksud.
adapun substansi kajian ISBD berdasarkan ketentuan dalam surat keputusan dirjen dikti no.30/dikti/kep/2003 tentang rambu-rambu pelaksanaan kelompok matakuliah berkehidupan bermasyarakat di perguruan tinggi Indonesia, mencakup pokok-pokok kajian sebagai berikut :

a. pengantar ISBD
b. manusia sebagai maklik budaya
c. manusia dan peradaban
d. manusia sebagai makhluk individu social
e. manusia,keragaman,kesederajatan
f.  moralitas dan hukum
g. manusia, sains dan teknologi
h. manusia dan lingkungan 

sedangkan menurut ketentuan baru, yaitu surat keputusan dirjen dikti nomor 44/dikti/kep/2006 tentang rambu-rambu pelaksanaan kelompok matakuliah berkehidupan bermasyarakat di perguruan tinggi, substansi kajian ISBD meliputi hal-hal berikut.
a. pengantar ISBD
b. manusia sebagai makhluk budaya
c. manusia sebagai makhluk individu social
d. manusia dan peradaban
e. manusia,keragaman, dan kesetaraan
f.  manusia, nilai , moral, dan hukum
g. manusia,sains, teknologi dan seni.
h. manusia dan lingkungan

menyimak dari isi kajian di atas, dapat dikemukakan bahwa kajian ISBD mencakup masalah social dan masalah budaya serta keberadaan manusia sebagai subjek bagi masalah-masalah tersebut. baik dihadapkan pada masalah social maupun budaya tersebut, diharapkan manusia dapat meningkatkan wawasannya, kepekaannya, serta berempati terhadap masalah maupun pemecahan masalahnya. 


B. ISBD SEBAGAI MATAKULIAH BERKEHIDUPAN BERMASYARAKAT (MBB) DAN PENDIDIKAN UMUM
  1. ISBD merupakan kelompok MBB di perguruan tinggi
menurut keputusan menteri pendidikan nasional republic Indonesia nomor 232/U/2000 tentang pedoman penyusunan kurukulum pendidikan tinggi dan penilaian hasil belajar mahasiswa, kelompok bahan kajian dan pelajaran yang dicakup dalamsuatu program studi yang dirumuskan dalam kurikulum terdiri atas:
  • kelompok matakuliah pengembangan kepribadian (MPK) adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran untuk mengembangkan manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian mantap dan mandiri, serta mempunyai rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. 
  • kelompok mata kuliah keilmuan dan keterampilan (MKK) adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran yang ditujukan terutama untuk memberikan landasan penguasaan ilmu dan keterampilan tertentu. 
  • kelompok matakuliah keahlian berkarya (MKB) adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran yang bertujuan untuk menghasilkan tenaga ahli dengan kekaryaan berdasarkan tenaga ilmudan keterampilan yang dikuasai. 
  • kelompok matakuliah prilaku berkarya (MPB) adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran yang bertujuan umtuk membentuk sikap dan perilaku yang diperlukan seseorang dalam karya menurut tingkat keahlian berdasarkan dasr ilu keterampilan yang dikuasai. 
  • kelompok metakuliah berkrhidupan bermasyarakat (MBB) adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran yang diperlukan untuk dapat memahami kaidah berkehidupan bermasyarakat sesuai dengan pilihan dengan keahlian dalam berkarya.
menurut surat keputusan menteri No.23/U/2000 tersebut ISD dan IBD termasuk dalam kelompok MPK kurikulum institusional. kurikulum institusional merupakan sejumlah bahan kajian dan pelajaran yang merupakan bagian dari kurukulum pendidikan tinggi, yang terdiri atas tambahan dari kelompok ilmu dalam kurikulum inti yang disusun dengan memerhatikan keadaan dan kebutuhan lingkungan secara cirri khas perguruan tinggi yang bersangkutan. sedangkan kelompok MPK kurikulum institusional yang lain, misalnya bahasa Indonesia, bahasa inggris, ilmu alamiah dasar, filsafat ilmu, dan olahraga(pasal 10 ayat 2)
selanjutnya terjadi perubahan berdasarkan surat keputusan dirjen dikti No.30 /Dikti/kep/2003 tentang rambu-rambu pelaksanaan kelompok matakuliah berkehibupan bermasyarakat di perguruan tinggi maka ISBD termasik dalam kelompok MBB. selengkapnya, mata kuliah yang termasuk dalam MBB terdiri atas :
a. ilmu social dan budaya dasar (ISBD)
b. ilmu kealaman dasar (IAD)

  • visi kelompok matakuliah berkehidupan bermasyarakat (MBB) visi kelompok MBB di perguruan tinggi merupakan sumber nilai dan pedoman bagi penyelenggaraan program studi guna mengantarkan mahasiswa memantapkan kepribadianm kepekaan social, kemampuan hidup bermasyarakat, pengetahuan tentang pelestarian, pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan hidup, dan mempunyai wawasan tentang perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. 
  • misi kelompok matakuliah berkehidupan bermasyarakat (MBB)
misi kelompok MBB di pergguruan tinggi membantu meumbuhkembangkan daya kritis, daya creative, apresiasi, dan kepekaan mahasiswa terhadap nilai-nilai social dan budaya demi memantapkan kepribadiannya sebagai bekal hidup bermasyarakat selaku makhluk hidup dan makhluk social yang mwmiliki sifat sebagai berikut :
  1. bersikap demokratis, berkeadapan, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, bermartabat serta peduli terhadap pelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup. 
  2. memiliki kemampuan untuk menguasai dasar-dasar ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. 
  3. ikut berperan mencari solusi pemecahan masalah social budaya dan lingkungan hidup secara arif.
c. kompetensi kelompok matakuliah berkehidupan bermasyarakat (MBB)
standar kompetensi kelompok MBB yang harus dikuasai mahasiswa meliputi berpikir kritis,kreatif,sistematis, ilmiah, berwawasan luas, etis,estetis, memiliki apresiasi, kepekaan dan empati social, bersikap demokratis, berkeadapan, dan menjunjung tinggi nilai kemampuan; memiliki kepedulian terhadap pelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup; mempunyai wawasan tentang perkembangan ilmu pengetahuan,teknologi dan seni sehingga dapat ikut berperan mencari solusi pemecahan masalah social,budaya,dan lingkungan hidup secara arif. 

kompetensi dasar untuk bidang ISBD adalah menjadi ilmuwan dari dan professional yang berpikir kritis,kreatif,sistematik, dan ilmiah, berwawasan luas,etis, memiliki kepekaan dan empati terhadap solusi pemecahan masalah social dan busaya secara arif.
kompetensi dasar untuk IAD adalah menajadi ilmuwan dan professional yang berfikir kritis, kreatif,sistematik,dan ilmiah,berwawasan luas,etis,lingkungan hidup, mempunyai wawasan luas tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta dapat ikut berperan dalam mencari solusi pemecahan masalah lingkungan hidup secara arif.
 
     2. ISBD sebagai program pendidikan umum (general education) pendidikan tinggi sebagai kelanjutan dari pendidikan menengah diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggaota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan professional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian. pendidikan tinggi dilaksanakan di perguruan tinggi dan oleh perguruan tinggi yang terdiri atas pendidikan akademik dan professional.
lulusan perguruan tinggi baik ilmuan / akademisi dan professional diharapkan memiliki kemampuan yang meliputi kemampuan personal, kemampuan akademik, dan kemampuan professional. 

kemampuan personal adalah kemampuan kepribadian. dengan kemampuan ini para teaga ahli diharapkan memiliki pengetahuan sehingga mampu menunjukan sikap, tingkah laku, dan tindakan yang mencerminkan kepribadian Indonesia; memahami dan mengenal nilai-nilai keagamaan, kemasyarakatan,dan kenegaraan (pancasila); memiliki pandangan yang luas dan kepekaan terhadap berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia.
kemampuan akademik adalah kemampuan untuk berkomunikasi secara ilmiah, baik lisan, maupun tulisan; menguasai peralatan analisis, berpikir logis, kritis, sistematik dan analitik; memiliki kemampuan kensepsional untuk mengidentifikasi dan merumuskan masalah yang dihadapi serta mampu menawarkan alternative pemecahan.
kemampuan professional adalah kemampuan dalam bidang profesi tenaga ahli yang bersangkutan. dengan kemampua ini, para tenaga ahli diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang tinggi dalam bidang profesinya. 

kemampuan personal adalah ditanamkan kepada para mahasiswa sebagai calon tenaga ahli melalui program pendidikan umum. pendidikan umum merupakan studi kajian yang membekali pesrta didik berupa kemampuan dasar tentang pemahaman, penghayatan,dan pengalaman nilai-nilai dasar kemanusiaan, sebagai makhluk tuhan, sebagai pribadi, anggota keluarga, masyarakat, warga Negara, dan sebagai bagian dari alam.
ISBD mengambil peran sebagai program pendidikan umum yang bersifat mengantarkan mahasiswa memiliki kemampuan personal. menempatkan diri sebagai anggota masyarakat yang tidak terpisahkan dari masyarakat serta kemampuan untuk memiliki tanggung jawab social kemasyarakatan. tanggung jawab itu diwujudkan dengan keikutsertaan dalam memecahkan masalah social dimasyarakatnya sesuai dengan ilmu yang dimilikinya.
program pendidikan umum berusaha untuk memperluas cakrawala perhatian dan pengetahuan para mahasiswa sehingga tidak terbatas pada bidang pengetahuan keahlian serta golongan asal masing-masing; membantu mahasiswa menemukan diri sendiri dan menempatkan diri dalam perkembangan masyarakat dan kebudayaan yang sedang berlangsung, menghadapkannya dengan masalah-masalah susila serta masalah yang diwujudkan oleh kenyataan-kenyataan kehidupan sosialm ekonomi, dan politik yang secara sadar ataupun tidak sadar senantiasa dihadapinya; memberikan pengertian pada mereka mengenai hubungan dan keterkaitan dari ilmu pengetahuan. singkatnya, program pendidikan umum diharapkann dapat menjadikan mahasiswa lebih peka dan lebih terbuka, disertai rasa tanggung jawab yang lebih kuat. 


C. ISBD SEBAGAI ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH SOSIAL BUDAYA
ISBD 
sebagai integrasi dari ISD dan IBD memberikan dasar-dasar pengetahuan social dan konsep-konsep budaya kepada para mahasiswa sehingga mampu mengkaji masalah social, kemanusiaan, dan budaya. selanjutnya, diharapkan mahasiswa peka,tanggap,kritis, serta berempati atas solusi pemecahan masalah social dan budaya secara arif. 

seperangkat konsep dasar ilmu social dan budaya tersebut secara interdisiplin digunakan sebagai alat bagi pendekatan dan pemecahan masalah yang timbul dan berkembang dalam masyarakat. dengan demikian ISBD memberikan alternative sudut pandang atas pemecahan masalah social budaya dimasyarakay. bardasarkan pemahaman yang diperoleh dari kajian ISBD, mahasiswa dapat mengorientasikan diri untuk selanjutnya mampu mengetahui kea rah mana pemecahan masalah harus dilakukan.

pendekatan dalam ISBD lebih bersifat interdisiplin atau multidisiplin, khususnya ilmu-ilmu social dalam menghadapi masalah social. pendekatan dalam ISBD bersumber dari dasar-dasar ilmu social dan budaya yang bersifat terintegrasi.ISBD digunakan untuk mencari pemecahan masalah kemasyarakatan melalui pendekatan interdisipliner atau multidisipliner ilmu-ilmu social dan budaya. sedangkan pendekatan dalam ilmu social lebih bersifat subjek oriented, artinya berdasarkan sudut pandang dari ilmu social tersebut. misalnya, ilmu ekonomi melihat suatu masalah melalui prespektif ekonomi serta pemecahan masalah pun dari sudut pandang ekonomi pula. 

pendekatan dalam ISBD akan memperluas pandangan bahwa masalah social, kemanusiaan, dan budaya dapat didekati dari berbagai sudut pandang. dengan wawasan ini pula maka mahasiswa tidak jatuh dalam sifat pengotakan ilmu secara ketat. sebuah ilmu secara mandiri tidak cukup mampu mengkaji sebuah masalah kemasyarakatan. dewasa ini perkembangan sebuah masalah semakin kompleks. kajian atas suatu masalah membutuhkan berbagai sudut pandang keilmuan, demikian pula dengan solusi pemecahannya.

ISBD sebagai kajian masalah social, kemanusiaan dan budaya, sekaligus pula member dasar pendekatan yang bersumber dari dasar-dasar ilmu social yang terintegrasi. pendekatan yang mendalam bersifat subject oriented di bebankan pada ilmu social dan budaya yang lebih bersifat teoritis , baik yang menyangkut ruang lingkup, metode dan sistematikanya. 

demikian pula halnya dengan pendekatan dalam ilmu-ilmu alam atau yang bersifat eksakta. pendekatan dalam ilmu-ilmu alam dalam mengkaji gejala alamiah juga bersifat subject oriented. mahasiswa yang menekini ilmu-ilmu eksakta akan mengkaji gejala alam menurut sudut pandang ilmu mereka. dengan diberikan kajian ISBD diharapkan dapat member wawasan akan pentingnya pendekatan social dan budaya dalam menangani masalah alam. misalnya,seorang sarjana teknik sipil dalam upayanya membuat jembatan harus mempertimbangkan aspek social dan budaya masyarakat dan sekitarnya. ia semata-mata tidak boleh hanya mempertimbangkan masalah teknis. harus dipahami bahwa manusia tidak lepas dari gejala alam dan kehidupan lingkungan. alam dan manusia akan saling mempengaruhi. namun,sebagai subjek kehidupan, manusia perlu memperlakukan alam secara baik sehingga akan memberikan manfaat bagi kesejahteraan hidupnya. 

berdasarkan hal tersebut beberapa perguruan tinggi memberlakukan ISBD sebagai mata kuliah wajib bagi mahasiswa dari program ilmu alam atau eksakta. hal ini dimaksudkan agar pendekatan social dan budaya senantiasa dipertimbangkan dan melandasi setiap upaya mencari solusi atas pemecahan dari masalah alam yang mereka hadapi. dengan demikian manusia sebagai calon ilmuwan dan professional harapan bangsa mampu bertindak secara arif dan bijaksana.  Jump to Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (ISBD) BAB II 


Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (ISBD) BAB II


Mata Kuliah Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar (ISBD)

BAB II
MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA

TUJUAN PEMBELAJARAN

setelah melaksanakan pembelajaran ini, mahasiswa diarapkan mampu :
 
  1. menganalisis manusia sebagai makhluk berbudaya
  2.  menjelaskan hakekat kemanusiaan dan kebudayaan 
  3. membedakan antara etika dan estetika berbudaya 
  4. menunjukkan sikap hormat dan menghargai sesama manusia 
  5. memberikan contoh problema kebudayaan dewasa ini
MATERI PEMBELAJARAN
1. hakikat manusia sebagai makhluk budaya
2. apresiasi terhadap kemanusiaan dan kebudayaan
3. etika dan estetika berbudaya
4. memanusiakan manusia
5. problematika kebudayaan 

KATA-KATA KUNCI
akal budi, budaya, kebudayaan, etika,estetika.
bab ini membahas tentang manusia sebagai makhluk budaya yang berkemampuan menciptakan kebaikan, kebenaran,keadilan, dan bertanggung jawab. sebagai makhluk berbudaya, manusia mendayakan akal dan pikirannya untuk menciptakan kebahagiaan baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat demi kesempurnaan hidupnya. sebagian makhluk berbudaya, manusia menciptakan kebudayaannya. 

dalam bab ini akan dibahas mengenai hakikat manusia sebagai makhluk budaya, apresiasi terhadap kemanusiaan dan kebudayaan, etika dan estetika berbudaya, memanusiakan manusia, dan problematika kebudayaan. 

A. HAKIKAT MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA
 
Manusia adalah salah satu makhluk tuhan di dunia. makhluk tuhan di alam fana ini ada empat macam, yaitu alam,tumbuhan, binatang, dan manusia, sifat-sifat yang dimiliki ke empat makhluk ini sebagai berikut : 
  1. alam memiliki sifat wujud
  2. tumbuhan memiliki sifat wujud dan hidup 
  3. binatang memiliki sifat wujud,hidup dan dibekali nafsu 
  4. manusia memiliki sifat wujud,hidup, dibekali nafsu serta akal budi.
akal budi merupakan pemberian sekaligus potensi dalam diri manusia yang tidak dimiliki makhluk lain. kelebihan manusia disbanding mekhluk lain terletak pada akal budi. anugrah tuhan akan akal budilah yng membedakan manusia dengan makhluk lain. akal adalah kemampuan berfikir manusia sebagai kodrat alami yang dimiliki. berpikir merupakan kegiatan operasional dari akal yang mendorong untuk aktif berbuat demi kepentingan dan peningkatan hidup manusia. jadi, fungsi dari akal adalah berfikir. karena manusia di anugerahi akal maka manusia dapat berfikir. kemampuan berfikir manusia juga digunakan untuk memecahkan masalah-masalah hidup yang dihadapinya.

budi berarti juga akal. budi menurit kamus lengkap bahasa Indonesia adalah bahian dari kata hati yang berupa paduan akal dan perasaan dan yang dapat membedakan baik-buruk sesuatu. budi dapat pula berarti tabiat atau perangai dan akhlak. sultan takdir alisyabanha mengungkapkan bahwa budilah yang menyebabkan manusia mengembangkan suatu hubungan yang bermakna dengan alam sekitarnya dengan jalan memberikan penilaian objektif terhadap objek atau kejadian. dengan akal budinya, manusia mampu menciptakan,mengkreasikan, memperlakukan, memperbaharui, memperbaiki, mengembangkan dan meningkatkan sesuatu yang ada untuk kepentingan hidup manusia. contohnya, manusia bisa membengun rumah , membuat aneka masakan, menciptakan beragam jenis pakaian, membuat alat transportasi,sarana komunikasi, dan lain-lain. binatangpun bisa membuat rumah dan mencari makan. akan tetapi, rumah atau makanan jenis suatu binatang tidak akan pernah berubah ataupun berkembang. rumah burung, atau sarang burung dari dulu sampai sekarang tetap saja wujudnya, tidak ada pembaharuan dan peningkatan. manusia dengan kemampuan akal budinya bisa memperbaharui dan mengembangkan sesuatu untuk kepentingan hidup. 

kepentingan hidup manusia adalah dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan hidup. secara umum, kebutuhan manusia dalam kehidupan dapat dibedakan menjadi 2. pertama, kebutuhan yang bersifat kebendaan(sarana-prasarana), atau badani / ragawi/ jasmani/rohani. contohnya adalah makan,minum, bernafas,istirahat dan seterusnya. kedua, kebutuhan yang bersifat rohani, atau mental dan psikologi. contohnya adalah kasih saying,pujian,perasaan aman, kebebasan dan lain sebagainya. 

Abraham maslow seorang ahlu psikologi berpendapat, bahwa kebutuhan manusia dalam hidup dibagi menjadi 5 tingkatan. kelima tingkatan tersebut adalah sebagi berikut :

  1. kebutuhan fisiologis 
  2. kebutuhan akan rasa aman dan perlindungan 
  3. kebutuhan social 
  4. kebutuhan akan penghargaan
  5. kebutuhan akan aktualisasi diri
meurut maslow, kebutuhan manusia awalnya diawali dengan kebutuhan fisiologis atau paling mendesak, kemudian ecara bertahap beralih pada tingkat kebutuhan diatasnya sampai tingkatan tertinggi, yaitu kebutuhan aktualisasi diri. beliau menjelaskan bahwa kita tidak dapat memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi kalau kebutuhan yang lebih rendah belum terpenuhi. itu berarti kebutuhan nomor 5 akan diupayakan pemenuhannya kalau kita sudah memenuhi kebutuhan-kebutuhan sebelumnya. jadi, kebutuhan manusia bertingkat dan membentuk hierarki.
dengan akal budi, manusia tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga mampu mempertahankan juga meningkatkan derajadnya sebagai makhluk yang tinggi bila disbanding makhluk lain. ,manusia tidak sekedar homo tetapi human (manusia yang manusiawi). dengan demikian manusia mempu mengembangkan sisi kemanusiaanya.
dengan akal budi, manusia mampu menciptakan kebudayaan. kebudayaan pada dasarnya adalah hasil akal budi manusia dalam interaksinya, baik dengan alam maupun alam sekitarnya. manusia merupakan makhluk yang berbudaya. manusia adalah pencipta kebudayaan.

B. APRESIASI TERHADAP KEMANUSIAAN DAN KEBUDAYAAN

1. manusia dan kemanusiaan
istilah kemanusiaan berasal dari kata manusia mendapat tambahan awalan ke dan akhiran-an sehingga menjadikan kata benda abstrak. manusia menunjuk pada kata benda konkret, sedangkan kemanusiaan kata benda abstrak. dengan demikian kemanusiaan tidak dapat dipisahkan dari manusia. manusia adalah homo sedangkan kemanusiaan adalah human.
kemanusiaan berarti hakekat dan sifat-sifat khas manusia sebagai makhluk yang tinggi harkat dan martabatnya. kemanusiaan menggambarkan ungkapan akan hakikat dan sifat yang seharusnya dimiliki oleh makhluk yang bernama manusia. kemanusiaan merupakan prinsip atau nilai yang berisi keharusan/tuntutan/ untuk berkesesuaian dengan hakikat dari manusia.
hakikat manusia bisa dipandang secara segmental atau dalam arti parsial, misalkan, manusia dikatakan sebagai homo economicus, homo faber, homo socius,homo homini lupus, zoon politicon dan sebagainya. namun pandangan demikian tidak bisa menjelaskan hakikat manusia scara utuh
hakikat manusia berdasarkan pancasila sering dikenal dengan sebutan hakikat kodrat mono prulalis, hakikat manusia terdiri atas ;

  1. mono dualis, susunan kodrat manusia dari segi aspek keragaan.meliputi wujud materi anorganis banda mati, vegetative, dan animalis serta aspek kejiwaan meliputi cipta, rasa dan karsa. 
  2. monodualis sifat kodrat manusia terdiri dari segi individu dan segi social. 
  3. monodualis kedudukan kodrat meliputi segi keberadaan manusia sebagai makhluk yang berkepribadian merdeka (berdiri sendirii) sekaligus juga menunjukan keterbatasannya sebagai makhluk tuhan.
hakikat manusia harus dipandang secara utuh, manusia merupakan makhluk tuhan yang paling sempurna, karena ia dibekali akal budi. manusia memiliki harkat dan derajad yag tinggi. harkat adalah nilai sedangkan derajat adalah kedudukan. pandangan demikian berlandaskan pada ajaran agama yang diyakini oleh manusia sendiri . contoh dalam ajaran agama islam surah at-tin ayat 4 dikatakan ‘sesungguhnya kami (allah) telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
karena manusia memiliki harkat dan derajat yang tinggi maka manusia hendaknya mempertahankan hal tersebut. dalam upaya mempertahankan dan meningkatkan hal tersebut, maka prinsip kemanusiaan berbicara, prinsip kemanusiaan mangandung arti adanya penghargaan dan penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia yang luhur itu, semua manusia adalah luhur, karena itu manusia tidak harus dibedakan perlakuannya hanya karea perbedaan suku,ras,keyakinan,status social ekonomi, asal usul dan sebagainya.
ada ungkapan bahwa the makind is one (kemanusiaan adalah satu). dengan demikian, sudah sewajarnya antar semua manusia tidaksaling mennindas, tapi saling menghargai dan menghormati dengan pijakan prinsip kemanusiaan.prinsip kemanusiaan yang ada pada diri manusia menjadi penggerak manusia untuk berperilaku yang seharusnya sebagai manusia.
dalam pancasila sila kedua terdapat konsep kemanusiaan yang adil dan beradap. kemanusiaan yang adil dan beradab berarti sikap dan perbuatan manusia yang sesuai dengan kodrat hakikat manusia yang sopan dan susila yang berdasarkan atas nilai dan norma moral. kemanusiaan yang adil dan beradab adalah kesadaran akan sikap dan perbuatan yang didasarkan pada budi murni manusia yang dihubungkan dengan norma-norma, baik terhadap diri sendiri, sesame manusia, maupun terhadap lingkungannya.

2. manusia dan dan kebudayaannya
kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta, yaitu budhayah yang merupakan bentuk jamak dari budhi (budhi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal. ada pendapat lain mengetakan budaya berasal dari kata budi dan daya. budi merupakan unsure rohani, sedangkan daya adalah unsure jasmani manusia. dengan demikian, budaya merupakan hasil budi dan daya dari manusia.
dalam bahasa inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata lain colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. dalam bahasa belanda, cultur berarti sama dengan culture, cultur atau culture bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. dengan demikian kata budaya ada hubungannya dengn kemampuan manusia dalam mengelola sumber-sumber kehidupan, dalam hal ini pertanian. kata culture juga terkadang diterjemahkan sebagai kultur dalam bahasa Indonesia.
kebudayaan sebagai system pengetahuan yang meliputi system idea tau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan bersifat abstrak. sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa prilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi social,religi,seni, dan lain-lain, yang kesemuannya ditujukan untuk membentu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakatnya. 

C. ETIKA DAN ESTETIKA BERBUDAYA

1. Etika manusia dalam berbudaya
kataetika berasal dari bahasa yunani, yaitu etos, secara etimologis etika adalah ajaran tentang baik-buruk, yang diterima umum tentang sikap,perbuatan,kewajiban dan sebagainya. etika bisa disamakan artinya dengan moral (mores dalam bahasa latin), akhlak atau kesusilaan. etika berkaitan dengan masalah nilai, karena etika pada pokoknya membicarakan masalah-masalah yang berkaitan dengan predikat nilai susila, atau tidak susila, baik dan buruk. dalam hal ini , etika termasuk dalam kawasan nilai, sedangkan nilai etika itu sendiri berkaitan dengan baik-buruk perbuatan manusia.
namun, etika memiliki makna yang bervariasi, bertens menyebutkan ada tiga jenis makna etika sebagai berikut.

  • etika dalam arti nilai-nilai atau norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok orang dalam mengatur tingkah laku. 
  • etika dalam arti kumpulan asas atau nilai moral (yang dimaksud di sini adalah kode etik) 
  • etika dalam arti ilmu atau ajaran tentang baik dan buruk. disini etika sama artinya dengan filsafat moral
etika sebagai nilai dan dan norma etik atau moral berhubungan denganmakna etika yang pertama . nilai-nilai etik adalah nilai tentang bik buruk kelakuan manusia. nilai etik diwujudkan kedalam norma etik, norma moral atau norma kesusilaan.
norma etik berhubungan dengan manusia sebagai individu karena menyangkut kehidupan pribadi. pendukung norma etik adalah nurani individu dan bukan manusiasebagai makhluk social atau sebagai anggota masyarakat yang terorganisir.norma ini dapat melengkapi ketidakseimbangan hidup pribadi dan mencegah kegelisahan diri sendiri.

norma etik ditujukan kepada umat manusia agar terbetuk kebaikan akhlak pribadi guna pnyempurnaan bentuk manusia dan melarang manusia melakukan perbuatan jahat. membunuh,berzinah,mencuri dan sebagainya, tetapi dirasakan juga sebagai bertentangan dengan norma kesusilaan dalam setiap hati nurani manusia. orma etik hanya membebani manusia dengan kewajiban-kewajiban saja.
asal atau sumber norma etik adalah dari manusia sendiri yang bersifat otonom dan tidak ditujukan kepada sikap lahir. tetapi ditunjukan kepada sikap batin manusia. batinnya sendirilah yang mengancam perbuatan yang melanggar norma kesusilaan dengan sanksi itu. kalau terjadi pelanggaran norma etik, misalnya pencurian atau penipuan, maka akan timbullah dalam hati nurani si pelanggar itu penyesalan, rasa malu, takut, dan merasa bersalah. 

daerah berlakunya norma etik relative universal, meskipun tetap dipengaruhi oleh ideology masyarakat pendukungnya. prilaku membunuh adalah prilaku yang amoral,asusila, atau tidak etis. pandangan ini bisa diterima oleh dimana saja atau universal. namun, dalam hal tertentu, perlaku seks bebas bagi masyarakat penganut kebebasan kemungkinan bukan perilaku amoral. etika masyarakat timu mungkin berbeda dengan etika masyarakat barat.
norma etik atau norma moral menjadi acuan manusia dalam berprilaku. dengan norma etik, manusia bisa membedakan mana perilaku yang baik dan mana perilaku yang buruk. norma etik menjadi semacam das-sollen untuk berperilaku baik. manusia yang beretika berarti perilaku manusia itu baik sesuai dengan norma-norma etik.
budaya atau kebudayaan adalah hasil cipta,rasa dan karsa manusia. manusia yang beretika akan menghasilkan budaya yang memiliki nilai-nilai etik pula. etika berbudaya mengandung tuntutan/keharusan bahwa budaya yang dicptakan manusia mengandung nili-nilai rtik yang kurang lebih bersifat universal atau diterima sebagian besar orang. budaya yang memiliki nilai-nilai etik adalah budaya yang mampu menjaga, mempertahankan, bahkan mampu meningkatkan harkat dan martabat manusia itu sendiri. sebaliknya, budaya yang tidak beretika adalah kebudayaan yang akan merendahkan atau bahkan menghancurkan martabat kemanusiaan.
namun demikian, menentukan apakah suatu budaya yang dihasilkan manusia itu memenuhi nilai-nilai etik ataukah menyimpang dari nilai etika adalah bergantug dari paham atau ideology yang diyakini masyarakat pendukung kebudayaan. hal ini dikarenakan berlakunya nilai-nilai etik bersifat universal, namun amat dipengeruhi oleh ideology masyarakatnya.
contohnya, budaya perilaku berduaan di jalan antara sepasang muda mudi, bahkan bermesraan di depan umum. masyarakat individu menyatakan demikian bukanlah perilaku tidak etis, tetapi aka nada sebagiano orang atau masyarakat yang berpandangan hal tersebut merupakan penyimpangan etik. 

2. Estetika manusia dalam berbudaya
etika dapat dikatakan sebagai teori tentang keindahan atau seni. estetika berkaitan dengan nilai-nilai jelek (tidak indah). nilai estetikaberarti nilai tentang keindahan. keindahan dapat diberi makna secara luas, secara sempit dan estetik murni.

  • secara luas, keindahan mengandung nilai kebaikan. bahwa segala sesuatu yang baik termasuk yang abstrak maupun nyata yang mengandung ide kebaikan adalah indah. keindahan dalam arti luas meliputi banyak hal ,seperti watak yang indah, hukum yang indah, ilmu yang indahdan kebajikan yang indah. indah dalam arti luas mencakup hampir seluruh yang ada.apakah merupakan hasil seni, alam moral, dan intelektual. 
  • secara sempit, yaitu indah yang terbatas pada lingkup presepsi penglihatan (bentuk dan warna) 
  • secara estetik murni, menyangkut pengalaman estetik seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang diresapinya melalui penglihatan, pendengaran,peradapan, dan perasaan, yang semuanya dapat menimbulkan presepsi (anggapan) indah.
jika estetika dibandingkan dengan etika, maka etika berkaitan dengan nilai yang berkitan dengan baik-buruk, sedangkan estetika yang berkaitan dengan indah jelek. sesuatu yang estetik berarti memenuhi unsure keindahan (secaraestetik murni maupun secara sempit, baik dalam bentuk warna , garismkata, ataupun nada). budaya yang estetik berarti budaya itu memiliki unsure keindahan. 

apabilai nilai etik bersifatrelativuniversal, dalam arti bisa diterima banyak orang, namun nilai estetik amat subjektif dan particular. sesuatu yang indah bagi seseorang belum tentu indah bagi orang lain. misalkan dua orang memandang sebuah lukisan, orang pertama akan mengakui keindahan yang terkandung di dalam luksan tersebut, namun bisa jadi orang kedua sama sekali tidak menemukan keindahan di lukisan tersebut.

oleh karena subjektif, nilai estetik tidak bisa dipaksakan pada orang lain. kita tidak bisa memaksa seseorang untuk mengakui keindahan sebuah lukisan sebagaimana pandangan kita, nilai-nilai estetik lebih bersifat perasaan, bukan pernyataan.
budaya sebagai hasil karya mausia sesungguhnya diupayakan untuk memenuhi unsure keindahan. manusia sendiri memang suka akan keindahan. disinilah manusia berusaha berestetika dalam berbudaya. semua budaya pastilah dipandang memiliki nilai-nilai estetik bagi masyarakat pendukung budaya tersebut. hal-halyang indah dan kesukaannya pada keindahan diwujudkan dengan menciptakan aneka ragam budaya.
namun sekali lagi, bahwa suatu produk budaya yang di pandang indah oleh masyarakat pemiliknya belum tentu indah bagi masyarakat budaya lain. contohnya, budaya suku-suku bangsa di Indonesia. tarian suatu suku berikut penari mungkin dilihat tidak ada nilai estetikanya, bahkan dipandang aneh oleh warga dari suku lain, demikian pula sebaliknya.
oleh karena itu, estetika berbudaya tidak semata-mata dalam berbudaya harus memenuhi nilai-nilai keindahan. lebih dari itu estetika berbudaya menyiratkan perlunya manusia untuk menghargai keindahan budayayang dihasilkan oleh manusia lainnya.keindahan adalah subjektif. tetapi kita akan dapat melepas subjektivitas kita untuk melihat adanya estetik.

3. BIMBINGAN SOSIAL TERHADAP KEKUATAN PSIKISNYA
Menurut pandangan aliran psikoanalisa kesenian, kesusasteraan, dan 9segala jenis idealisme sosial dan politik muncul dari kenyataan bahwa kekuatan psikis yang dapat ditanamkan di dalam obyek-obyek yang secara sosial dapat diterima, memberiknnya suatu nilai yang tegas dan pasti. Masalah besar yang dihadapi sosiologi dewasa ini ialah menemukan cara-cara untuk mempergunakan kekuatan psikis ini sehingga bermanfaat secara kemasyarakatan. 

Telah kita pahami bahwa idealisasi dan sublimasi adalah bentuk-bentuk khusus dari apa yang kita sebut secara lebih umum dengan ‘pemindahan kekuatan psikis’, menggunakan kekuatan psikis yang sama dengan yang digunakan dalam kasus neorosa atau rasionalisasi atau pembentukan reaksi, namun dengan akibat yang sungguh berbeda. Apakah kekuatan psikis itu ditanamkan di dalam obyek-obyek yang secara kemasyarakatan dapat diterima, tentu saja tergantung kepada kepribadian individual, namun demikina mungkin pula tergantung kepada sifat dari bimbingan kekuatan-kekuatan yang bekerja di dalam masyarakat dimana individu yang bersangkutan hidup.

Kita kini hidup dalam suatu periode dimana ide perencanaan sosial tidaak lagi merupakan konsepsi yang asing sama sekali. Mungkin sekali bimbingan terhadap kekiatan psikis kita, cepat atau lambat akan dianggap sebagai suatu masalah sosial yang penting. Bimbingan demikian tentu saja bukan berarti bahwa kita dapat atau menghendaki untuk mengatur perkembangan individual kita secara mekanik atau kita harus mencoba meramalkan perkembangan evolusi dari individdu tertentu. Peramalan evolusi dari individu demikian itu adalah suatu hal yang tak mungkin dan tak perlu; namun ada kemungkinan bahwa faktor-faktor umum cenderung membentuk perilaku manusia dan kondisi pemanfaatan kekuatan psikis yang berlebih-lebihan mungkin ditampung dan dibimbing karena mempengaruhi kebanyakan orang kearah tingkat tertentu dan kedalam aturan tertentu. Dalam hal ini orang harus membedakan dua hal. Pertama, kondisi individual tertentu dalam keadaan sebelum ditentukan, yakni sebelum mendapatkan bantuan dari institusi tertentu yang menghasilkan tipe khusus individu. Sekiranya ada orang yang mempercayai terbentuknya kepribadian individu menurut cara ini, maka orang itu tentu berasumsi bahwa perkembangan masyarakat secara berangsur-angsur dapat diramalkan, dan merupakan suatu yang tak dapat dielakkan. Tetapi ini sama sekali bukan pendirian kita. Kita berasumsi bahwa kondisi tertentulah yang menyebabkan timbulnya beberapa pengaruh dengan derajat kemungkinan statistik tertentu. Namun kebebasan berkembang diluar tipe itu adalah sesuatu yang esensial terhadap perkembangan yang lebih banyak bersifat tentatif dan yang mudah disesuaikan ini.

Bimbingan terhadap kekuatan psikis dan emosional dalam masyarakat yang lebih sederhana, pertama terdiri dari penyesuaian kekuatan aktif menurut kebutuhan masyarakat yang lebih sederhana seperti yang lahir dari proses pembagian kerja dalam masyarakat, dan kedua dalaam menyelaraskan kekuatan yang berlebihan dengan merangsang pertumbuhan pola sublimasi dengan mempengaruhi aktivitas yang menyenangkan dan sebagainya. Kita harus mempelajari dengan sangat hati-hati bagaimana proses sublimasi dan pemindahan kekuatan psikis dan emosional itu mendapatkan bimbingannya dalam masyarakat yang lebih kuno.

4.PENETAPAN OBYEK DAN PEMINDAHAN LIBIDO
Kemungkinan untuk membimbing kekuatan emosionla disediakan oleh kenyataan fundamental bahwa emosi manusia tidak seluruhnya ditentukan pada waktu lahir kepada obyek tertentu, dan malahan sering kali situasi sosial yang menghubungkannya dengan obyek-obyek tertentu. Sekali emosi dihubungkan dengan suatu obyek tertentu, maka kita berbicara tentang ‘penentuan obyek’ atau disebut juga kathexis. Penetapatn obyek seperti itu misalnya kecintaan anak terhadap orang tuanya dan sebaliknya, kecintaan anak terhadap saudara-saudaranya, kecintaan murid terhadap gurunya san sebaliknya, kecintaan anak terhadap teman sepermainannya dan sebagainya. Disamping itu, dapat pula mencakup kecintaan terhadap rumah atau kecintaan terhadap kegiatan-kegiatan seperti terhadap pekerjaan dan terhadap simbol-simbol keagamaan atau politik, atau kepercayaan. Sekali penetapan obyek telah terjadi maka ikatannya menjadi terkunci dengan era, namun demikian dalam hal ini masih terdapat kemungkinan pergeseran libido dari satu obyek ke obyek yang lain. 

Seperti terjadi dalam proses evolusi kehidupan anak-anak dimana terdapat model umum peniruan, yang dimulai dari orang yang paling dekat hubungannya dengan si anak, kemudian mengarah kepada orang yang lebih jauh hubungannya dengannya, dan dari contoh-contoh yang lebih konkrit menuju kepada yang lebih abstrak, demikian pula proses pemindahan emosi itu terjadi, dimulai dari ibunya dan anggota keluarganya yang lain menjurus kepada anggota komunitas diluar anggota keluarganya, dan akhirnya terhadap ide-ide abstra komunitas itu sendiri. Selanjutnya karena situasi dasar pada setiap jenis kemampuan sosialisasi manusia ditemukan kenyataan bahwa anak manusia lebih tergantung dibandingkan dengan anak binatang, dengan demikian maka nasib libido ditentukan oleh situasi fundamental yang sama. Selama periode menyusu dan pemeliharaan yang intensif, anak manusia mengembangkan perasaan ketergantungan terhadap orang lain yang mendorong kearah pengembangan kecenderungan yang bersifat libido dan kecenderungan emosional demikian itu disatukan dan diaraahkan kepada seseorang, yang biasanya adalah ibunya. Karena penetapan obyek emosional yang mula-mula terjadi selama masa bayi, maka pola keluarga yang mula-mula itu sangat penting bagi individu dalam membantu menciptakan sikap-sikapnya yang mendasar. Lasswell menekankan pada kenyataan bahwa pemikiran orang dewasa hanyalah sebagian saja yang benar2benar diperolehnya dalam masa dewasanya, dan karena itu obyek dan model-model yang diperkenalkan semasa bayinya mempengaruhi perilaku orang dewasa dalam situasi sosial. Kita sering melihat pertumbuhan tingkah laku anak-anak mencerminkan sikap ibunya. Perasaan gelisah, pola kepercayaan tahyul dan tabu dari seseorang mungkin sekali berasal dari sikap orangtuanya, dan terus berpengaruh setelah anak itu menjadi dewasa. Karena itu setiap keluarga yang memperlihatkan pola sikap dan pola perilaku tertentu, besar kemungkinan berasal dari lingkungan eluarga si ayah dan si ibunya sendiri. Kenyataan ini sebagian menerangkan kelambatan perkembangan masyarakat sekalipun dalam periode dinamis atau periode revolusioner. Kelambatan perkembangan ini bukan karena kenyataan bahwa individu tidak dapat diubah, melainkan karena kenyataan bahwa unit pembentuk kepribadian yang fundamental yakni keluarga, telah bekerja dalam waktu yang lama dan dengan cara yang sama, sekalipun lingkungan sosialnya telah berubah. Bukan warisan biologis dan warisan mental yang menjadi alasan kenapa pola mental tertentu direproduksi dari satu generasi ke generasi berikutnya tetapi adalah kenyataaan bahwa perubahan-perubahan dalam kehidupan publik hanya merembes dengan sangat lambat ke dalam kehidupan keluarga. 

Seorang anak, sekali ia telah dibentuk oleh keluarganya, hanya dapat dengan secara bertahap mengubah pola utama sikap dan perilakunya itu. Namun demikian, terdapat suatu periode dalam perkembangan anak-anak ketika pemindahan bagian penting penetapan libido terjadi. Inilah yang dikenal sebagai periode pubertas atau periode remaja. Fase pertumbuhan biologis ini bertepatan dengan kontak-kontak sosial baru dan kebutuhan-kebutuhan sosial yang baru pula. Suatu konflik peranan dapat terjadi, dan pada umumnya jika tak terselesaikan dengan baik, pemindahan fiksasi emosional dapat terjadi. Terdapat suatu masalah remaja di dalam masyarakat kita (Barat) dimana aspirasi kalangan remaja yang menuntut adanya kebebasan dan desakan para orangtua terhadap keterikatan, bertentangan satu sama lain. Menarik sekali bahwa masyarakat primitif mempunyai perencanaan dan menginstitusionalisasikan fase transisi ini di dalam adat-istiadatnya yang dihubungkan dengan upacara pelantikan atau pembayaran paraa remajanya menjadi orang dewasa yang dikenal dengan istilah ‘initiation rites’. 

Dalam suatu simposium yang membahas penelitian sosiologi tentang masalah remaja, Margaret Mead, E.B. Reuter, dan R.G. Foster mengemukakan aspek-aspek yang berbeda dari masalah ini. Menurut Reuter, keremajaan tidak harus di definisikan dalam pengertian kematangan anak secara psikis. Jika kita menganalisanya sebagai suatu pengalaman sosial, maka keremajaan bermula ketika masyarakat tidak lagi memandang seseorang sebagai anak kecil tetapi menilainya telah mengambil alih beberapa tanggung jawab orang dewasa. Sedangkan usia pengambil alihan tanggung jawab itu terjadi, tergantung kepada faktor-faktor sosial, bukan kepada faktor biologis. Kelompok keagamaan menyerahkan tanggung jawab orang dewasa kepada anak-anak yang berusia antara 12-14 tahun. Dengan demikian, kelompok keagamaan itu mengesahkan anak-anak dalam usia tersebut sebagai orang dewasa. Di Inggris, usia dewasa dalam soal seksual adalah 16 tahun; usia untuk diizinkan minum alkohol 18 tahun. Masyarakat modern cenderung menetapkan suatu periode transisi yang panjang antara masa kanak-kanak dan masa dewasa, sementara itu anak remaja biasanya menganggap dirinya sendiri sebagai orang dewasa, dan mendesak dengan satu dan lain cara bahwa keluarga serta masyarakat tidak perlu lagi memperlakukan mereka sebagai anak kecil. 

Secara biologis keremajaan adalah suatu tingkat perkembngan sosial dan suatu keadaan mental atau keadaan berpikir tertentu. Keremajaan melambangkan suatu periode lanjutan dari sikap yang tidak terpengaruh seorang pemuda dari pengendalian keluarga. Ini adalah suatu tanda ketergantungan terhadap kelompok umurnya sebelum ia mencapai kebebasan secara individual dalam membuat keputusan-keputusan yang menandai status kedewasaan penuh. Banyak orang dewasa secara psikologis, yang sebenarnya tak pernah melebihi sikap dan perasaan orang yang kita sebut remaja.

Sebagian besar tergantung kepada jenis pola perilaku dan sikap yang ditawarkan kepada pemuda dalam fase kritis dari pertumbuhannya. Jika suatu masyarakat dapa menentukan apa yang setepatnya dilakukan dalam merencanakan pengaruh yang penting, dan dapat secara meyakinkan mempengaruhi kedua fase fundamental, dari perkembangan manusia- yakni fase anak-anak dan fase pubertas- sekalipun perbedaan secara individual masih akan timbul tetapi suatu bimbingan yang lebih besar terhadap masyarakat akan dimungkinkan. Memang setelah fase pubertas itupun kita tak henti-hentinya mengubah sikap kita. Namun dasar kebersamaannya yang berasal dari lingkungan keluarga akaan lebih besar peranannya. Saya yakin bahwa kita berada diambang pintu suatu situasi masyarakat dimana akan memerlukan bimbingan yang lebih besar lagi. 

Dalam tingkat poerkembangan sosial yang lebih kemudian, transformasi terus-menerus dan pemindahan libido diperlihatkan oleh kenyataan bahwa masyarakat yang revolusioner ditandai oleh banyak kelonggaran dari libido yang sebelumnya telah dikukuhkan. Ketegangan besar dalam masyarakat seperti itu lahir dari kenyataan bahwa disana terfdapat sejumlah kekuatan libido yang muncul tanpa suatu pengukuhan sedang mencari integrasi baru. Dalam masyarakaty tradisional yang konservatif, kekuatan emosional dikukuhkan dan dipelihara berdasrkan ata keluarga, pertemanan, keanggotaan kelompok tradisional darimana seseorang dilahirkan, atas dasar cita-cita yang dihargai dalam kelompok tersebut, dan dalam beberapa kasus tertentu mendorong individu untuk mencoba melahirkannya di dalam skala sosial tertentu. Pada waktu bersamaan, nilai emosional dari ide-ide keagamaan, adat-istiadat dan sopan santun tradisional masih sangat kuat.
Tetapi sekali terjadi pergeseran umum dalam struktur masyarakat, maka banyak orang yang melepaskan cita-cita sosial dan politik, cita-cita keagamaan, kebiasaan rekreasi dan ambisi pribadi yang tertanam di dalam perasaan mereka masing-masing. Sebagai akibatnya, terdapat sejumlah kekuatan psikis yang terlantar yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan baru.

Penciptaan agama baru yang hanya dimungkinkan dalam situasi dimana suatu generasi baru telah melepaskan ikatan emosionalnya yang lama dan jika kelompok pemimpinnya menyadari bahwa mereka harus menciptakan fiksasi perasaan bersama yang baru yang dapat dipertalikan dengan loyalitas menuju tatanan sosial baru. Fiksasi libido dalam periode revolusi atau dalam masa-masa reformasi sosial biasanya dihasilkan oleh proses demikian itu. 

Makna sosiologis dari pemindahan libido ini harus diakui sangat penting karena sama caranya dengan pemindahan motif-motif individual dari obyek keluarga kepada obyek publik yang merupakan bentuk normal dari perkembangan individual. Dengan demikian, perasaan-perasaan kebanggaan dari kesetiaan yang dirasakan sseseorang anak terhadap orangtuanya kemudian dapat dialihkan kepada tokoh pemimpin rakyat atau kepada tanah air. Sebaliknya rasa kebencian terhadap seorang atau terhadap kedua orangtuanya sebelumnya, mungkin kemudian dapat dibelokkan kearah penentangan terhadapa kekuasaan raja, kelas kapitalis, atau terhadap penguasa lain. Seperti dikemukakan Lasswell, seorang dewasa yang merasa bahwa ia tidak dapat lagi mencintai ‘umat manusia ‘ ini. Ia tak dapat mencintai Tuhan namun ia dapat mencintai bangsanya. Atau ia mungkin merasa tak mampu mencintai tanah airnya dan malahan menjadikan kelasnya atau partainya sebagai obyek kecintaan dan pemujaan.

Persoalan yang timbul disini ialah apakah dan seberapa jauh psikologi bermanfaat dalam analisa politik. Menurut saya analisa politik tanpa bantuan psikologi sendiri sebenarnya tidak mencukupi karena ia mengandung keterbatasan yang sangat penting. Psikologi cenderung memotong faktor-faktor sosial seperti perkembangan institusi dan mengabaikan pengaruh tekanan ekonomi dan kebutuhan-kebutuhan serta pengaruh yang timbul dari strategi dan faktor-faktor militer yang diperlihatkan dalam suatu masyarakat.

7. SOSIOLOGI TENTANG TIPE PERILAKU
 
 i. Sikap dan Keinginan.
Sedemikian jauh telah dibicarakan tentang proses yang paling mendasar yang menyatukan, melarutkan, menyatukan kembali, menetapkan, dan memindahkan kekuatan psikis yang bersifat libido.
Perkembangan ini termasuk ke dalam bahasan sosiologi umum (sistematika sosiologi) karena setiap masyarakat baik yang paling primitif maupun yang paling maju atau yang paling rumit susunannya didasarkan atas mekanisme ini. Sebaliknya sosiologi historis mempelajari bentuk-bentuk yang lebih individual dari penetapan dan pemindahan libido seperti: sifat dari perasaan kekeluargaan dalam periode historis tertentu atau tentang perasaan konsep kasih-sayang dalam periode kekesatriaan atau tentang perasaan nasionalisme diantara kelompok-kelompok sosial yang terdapat didalam suatu negara seperti Jerman misalnya atau tentang sejarah pemindahan libido di dalam kehidupan kelompok yang berbeda. 

Diantara kedua tingkat sosiologi ini, yakni antara sistematika sosiologidan sosiologi historis, terdapat suatu tingkat perantara. Dalam tingkat perantara ini kita mempelajari tipe-tipe umum tertentu dengan cukup nyata menandai keseluruhan tipe mental dan yang mungkin kita untuk menerapkan pernyataan umum di dalam lingkungan historis yang lebih konkrit. Contoh analisa seperti itu, disumbangkan oleh W.I. Thomas seorang sosiolog dan ahli psikologi sosial Amerika yang menyusun tipe-tipe kelompok dan menyebutnya dengan’empat keinginan’. Thomas mengakui bahwa jika kita mencoba menganalisa sekelompok orang tertentu dan kita ingin menguraikan tidak hanya sekedar aktivitas mereka dan penyesuaian tujuan bersama mereka, tetapi juga perubahan kehidupan batin, (inner life) mereke, sikap, keinginan dan perasaan mereka, maka kita membutuhkan suatu klasifikasi mana sebagian besar orang dapat disesuaikan. Ini berarti bahwa klasifikasi itu dapat menampung secara utuh satu tipe – yang mana ini jarang terjadi- atau klasifikasi itu menggambarkan suatu campuran dari dua atau lebih tipe-tipe. Thomas mengakui bahwa keinginan-keinginan manusia mempunyai perbedaan bentuk yang sangat besar tetapi menurutnya pula, keinginan yang berbeda-beda itu dapat di klasifikasikan menjadi empat tipe dengan beberapa keuntungan. Masing-masing tipe adalah sebagai berikut:

  • Keinginan untuk memperoleh pengalaman baru
  • Keinginan untuk memperoleh keamanan
  • Keinginan untuk memperoleh tanggapan
  • Keinginan untuk memperoleh penghargaan.
Thomas mengira dan saya pun sependapat bahwa kompleks sikap berasal dari kecenderungan mendasar, rangsangan atau apa yang disebut dengan naluriah. Thomas mencoba meredusir keempat tipe keinginan tersebut menjadi pola sikap yang paling mendasar yang telah dapat ditemukan pada kehidupan bayi dan pada tingkat primitif dari evolusi sosial. Kiranya ada baiknya direkapitulasi di sini, baik uraiannya tentang keinginan-keinginan fundamental maupun upayanya dalam meredusir keinginan-keinginan manusia itu menjadi keinginan yang lebih sederhana.
  • Keinginan Untuk Memperoleh Pengalaman Baru
Seluruh pengalaman yang lazim dikejar seperti terbang, menangkap, meloloskan diri dari pengejaran atau dari kematian adalah pengalaman yang menarik dan mengasyikkan. Thomas membicarakan tentang pengalaman disini yang menandai kehidupan manusia yang lebih kuno. Ada suatu informasi yamg lambat dari pola yang asli dan sederhana ke pola yang disublimasikan secara lengkap dan ruwet. Sekarangpun kita masih dapat mengenal sesuatu yang disebut: ‘pola pemburuan ‘kepentingan’. Petualangan merupakan perubahan utama dari pola ini. Sensasi yang diberitaakan di dalam koran merupakan jenis lain dari transformasi itu. Kegiatan individual seperti yang diberitakan dikoran itu dan pengalaman seperti ketika bercumbu-cumbuan juga merupakan suatu elemen yang dikejar. Dalaam setiap penemuan ilmiah yang murni juga terdapat pola pemburuan terhadap pekerjaan dan praktek yang sama juga terjadi dalam penyelesaian teka-teki atau suatu masalah.
  • Keinginan Untuk Memperoleh Keamanan
Keinginan ini terutama didasarkan atas rasa takut yang bergandengan dengan kemungkinan timbulnya penderitaan pisik atau kematian, daan mengekspresikan dirinya sendiri dalam perasaan takut dan melarikan diri. Individu yang mendominasi oleh keinginan untuk memperoleh keamanan biasanya sangat berhati-hati dan konservatif, cenderung kepada kebiasaan yaang teratur, bekerja secara sistematis dan suka mengumpulkan kekayaan. Polaritas sosial antara pemberontakan dan orang yang tradisional berkaitan erat dengan ke dua tipe pertama keinginan tersebut diatas.
  • Keingin Untuk Memperoleh Tanggapan 
Keinginan ini di kembangkan dari kecenderungan untuk mencintai, mencari dan memberi tanda-tanda apresiasi. Kecenderungan ini terlihat dalam kesayangan seorang ibu terhadap anaknya dan dalam tanggapan seorang anak terhadap kasih-sayang ibunya. Namun keinginan ini juga bekerja pada derajat yang lain dalam keinginan untuk mendapatkan tanggapan dari lawan jenis. Masa bercumbu-cumbuan yang penuh gairah misalnya penuh dengan janji-janji muluk dan daya tarik demi untuk mendapatkan tanggapan yang serupa itu pula kembali. Kecemburuan adalah suatu ekspresi dari rasa takut, dalam hal mana tanggapan ditujukan kepada orang lain. Tetapi sukse-sukses kemasyarakatan sering mengurangi keinginan untuk memenuhi tanggapan secara personal.

  • Keinginan Untuk Memperoleh Penghargaan
Keinginan ini diekspresikan dalam perjuangan perseorangan untuk memperoleh posisi atau pengaruh dan prestisedalam kelompok sosial mereka sendiri. Ini kita namakan keinginan untuk memperoleh status sosial. Contoh nyatanya ditemuukan dalam kasus politisi atau kapten industri yang berjuang untuk memperoleh sukses. Seorang laki-laki atau wanita, mungkin memancing tanggapan dan memperoleh perhatian atau penghargaan melalui tindakan berpura-pura sakit. Sedangkan orang lainnya mungkin memperoleh penghargaan dengan menampilkan sikap dan tindakan yang berpura-pura atau dengan kerendahan hati yang sungguh-sungguh, dengan mengorbankan kepentingan dirinya sendiri, dengan kesholehan dan dengan mati syahid. Tendensi serupa itu mungkin bermanfaat secara kemasyarakatan dalam satu hal tertentu dan berbahaya dalam hal yang lain. Motif-motif yang berkaitan dengan suatu daya tarik untuk memperoleh pengahargaan melalui sikap yang mementingkan diri sendiri dan kesukaan memamerkan disebut: sombong sedangkan aktivitas kreatif yang berkaitan dengan keinginan yang serupa disebut: ambisi.
Kita boleh menggeser dari satu kategori ke kategori yang lain dan menemukan obyek baru untuk kategori yang sama. Terakhir, keinginan-keinginan yang berbeda mungkin dapat di gabungkan ke dalam kepribadian seorang individu. 

Seorang imigran ke Amerika misalnya mungkin sekali ingin melihat dunia baru, untuk mencari keuntungan, untuk mencari taraf hidup yang tinggi atau untuk memenuhi sejumlah keinginan yang lain yang tercakup dalam keempat tipe keinginan tersebut diatas.
Wataak dapat dipandang sebagai suatu ekspresi dari kesatuan keinginan-keinginan dasar yang dihasilkan dari saling pengaruh-mempengaruhi antara temperamen dan pengalaman. Keinginan adalah titik tolak dari aktivitas dan tekanan-tekanan terhadapnya dpat mempengaruhi perilaku manusia.


ii. Kepentingan
Sedemikian jauh kita telah menganggap penting unsur-unsur yang tidak disadari dan yang irrasional dari kehidupan manusia. Meskipun kehidupan sosial tanpa terelakkan dibimbing sedemikian luasnya oleh faktor-faktor ketidaaksadaran dan emosi, namun adalah suatu kekeliruan besar bila diabaikan peranan yang dimainkan oleh kepentingan rasional.
Kita akan membedakan dua ide tentang ‘kepentingan’. Pertama, kepentingan dalam arti luas. Contohnya seperti: yang berkepentingan atau berminat terhadap rakyat, terhadap kesenian, atau terhadap filsafat. Kepentingan demikian ini adalah murni dalam pengertian psikologi. Kedua, di sebut kepentingan rasional. 

Kepentingan dalam arti luas adalah pasangan dari sikap. Menurut MacIver, sikap adalah keadaan berpikir secara subyektif, mencakup kecenderungan bertindak menurut cara-cara yang khas, kapan saja suatu stimuli timbul. Sikap seperti itu misalnya sikap cemburu, iri-hati, benci, jijik, pemujaan, keyakinan atau ketidakyakinan. Seluruh sikap secara tak langsung menyatakan obyek tertentu, ke arah mana sikap itu di tujukan, tetapi obyek ini menyatakan keadaan pikiran, bukan obyek seperti yang ditunjukkan dengan istilah ‘sikap’/
Sebaliknya, jika kita mengalihkan perhatian kita dari subyek kepada obyek, maka kita akan berbicara tentang obyek dari kepentingan. Seorang politisi misalnya, adalah obyek kepentingan dari banyak orang walaupun sikap orang itu terhadapnya mungkin sangat berbeda-beda. 

Kita dapat memulai dengan mengingat suatu obyek kepentingan dari sudut pandangan elemen subyektif. Sekali kepentingan saya dipusatkan kepada obyek itu maka hubungan obyektif antara obyek itu dengan saya mejadi semakin penting. Dalam arti luas ini kita dapat membicarakan tentang kepentingan terhadap obyek kultural seperti terhadap filsafat. Dalam hal ini kepentingan berarti suatu obyek yang mendapatkan perhatian kita. 

Dari kepentingan dalam arti ‘saya berminat terhadap sesuatu’, maka kita harus membedakannya dari kepentingan yang mempunyai implikasi khusus terhadap keuntungan personal yang kadang-kadang kita sebut ‘kepentingan sendiri’. Sebagai contohnya, saya mungkin menginginkan untuk mencapai sejumlah terbesar kemungkinan dalam bidang kekuasaan, prestise atau keuntungan ekonomi. Keinginan utama untuk memperoleh keuntungan, mendorong saya untuk melakukan kegiatan. Ini berarti bahwa kepentingan memaksa saya untuk mengorganisir tingakah laku saya untuk mencapai tujuan tertentu dan dalam hal ini kita berbicara tentang makna kedua dari kepentingan yang kita bicarakan, yakni kepentingan rasional. Kepentingan rasional ini secara tak langsung enyatakan adanya perhitungan dan perjuangan untuk mencapai tujuan tertentu itu, dan bentuk-bentuk yang kompleks dari penyesuaian diri, karena perhitungan secara tak langsung berarti memilih cara-cara yang paling efektif dan jalan yang paling singkat untuk mencapai tujuan itu serta dengan upaya ekonomi yang paling besar. Ini secara tak langsung menyatakan pula adanya suatu kontrol positif terhadap sumber daya dan dana yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu; kontrol positif terhadap pemilihan alat-alat dan cara-cara untuk memuaskan keinginan-keinginan dan melatih kekuatan berpikir terutama inisiatif serta mencerminkan kebutuhan terhadap kehati-hatian dan kebijaksanaan melihat jauh ke depan.
Sebagai contoh, sementara kelompok berdasarkan atas hubungan darah (keluarga atau suku) maka individu demikian kuatnya dibatasi oleh keluarganya atau oleh sukunya sehingga individu itu tak mampu membebaskan diri dari peraturan bersama dan tabu. Dalam kasus ini individu tak dapat mengarahkan aktivitasnya menurut kepentingan dirinya sendiri, tetapi menurut interpretasi kelompok terhadap situasi, kecuali jika individu itu mencapai kepentingan persoalannya didalam kerangka kepentingan kelompoknya itu. Tradisi sangat menetukan dala situasi seperti itu, sebagai mana ditunjukkan oleh Malinowski dalam penelitiannya terhadap kehidupan ekonomi penduduk di Kepulauan Koral, dimana harga tidak mengikuti hukum permintaan dan penawaran, melainkan menurut tradisi. 

Jika saya sedang berjuang untuk mencapai sesuatu yang baik, dimana orang lain juga ingin mencapainya, masing-masing untuk dirinya sendiri, maka kita berbicara tentang kepentingan yang sama (like interest). Jika dua orang atau lebih mengejar suatu tujuan yang mana masing-masing orang tetap merupakan unit-unit dari kesemuanya dan mereka menyadari sebagai suatu keseluruhan, maka kita berbicara tentang kepentingan bersama (commo interest). Kepentingan yang sama mendorong terjadinya kompetisi untuk mendapatkan barang sesuatu yang sama, sedangkan kepentingan bersama mendorong terciptanya kerjasama. Satu masalah terpenting dalam menciptakan keharmonisan masyarakat ialah bagaimana mengubah kepentingan yang sama menjadi kepentingan bersama, bagaimana mengubah kompetisi menjadi kooperasi atau kerjasama. Masalah ini menyangkut bimbingan terhadap pemindahan libido. 

Perbedaan penting lainnya ialah antara kepentingan jangka panjang dan jangka pendek. Jika seseorang mempunyai kebiasaan mengubah-ubah keinginan dan keppentingan maka ia takkan mampu mengorganisir perilakunya sejalan dengan tujuan jangka panjang. Contoh perilaku serupa itu ditunjukkan oleh kemanjaan seorang anak yang selalu menuntut dan menerima pemenuhan keinginannya dalam waktu singkat atau seseorang pengembara yang tidak mempunyai tujuan yang jelas dalam hidupnya. Satu syarat terpenting untuk pertumbuhan aktivitas yang terorganisir dan syarat terpenting untuk semua epentingan-kepentingan jangka panjang, dan kekayaan pribadi telah menjadi kekuatan yang sangat berarti sepanjang sejarah dalam menciptakan kepentingan jangka panjang bagi individu. Setiap sistem produksi yang kompleks atau organisasi sosial yang kompleks, memerlukan aktivitas jangka panjang dan bagi kelompok pemimpin aktivitas itu kebanyakan diciptakan melaui kekayaan pribadi. Tetapi aktivitas jangka panjang itu juga dapat diciptakan dengan mengorganisir kepentingan bersama yang didasarkan atas kesadaran terhadap kekayaan bersama atau dengan mengutamakan hasil usaha bersama yang terbesar. Contohnya dapat ditemukan dalam sikap kesetiaan terhadap hukum atau terhadap cita-cita ideal di Inggris yang terlihat di kalangan tentara, olahragawan, pegawai pemerintah, dan juga terlihat di Uni Soviet dalam kesuksesan apa yang disebut ‘kompetisi sosialis’. Pemaksaan mendatangkan akibat-akibat buruk, dan perbudakan adalah paling menyedihkan. Kekayaan pribadi dan usaha yang didasarkan atas intensif berupa penghargaan atau keuntungan, memberikan hasil yang jauh lebih baik. 

Kekayaan pribadi, menekankan kepada perhitungan jangka panjang dan pada gilirannya mengorganisir perilku individu. Wujud yang tepat dari kepentingan dan pengorganisasian perilaku, berbeda-beda menurut jenis kekayaan yang dimiliki. Kepentingan terhadap tanah sebagai contoh, menciptakan fiksasi libido yang jauh lebih besar terhadap obyek yang konkrit dibandingkan dengan kepentingan terhadap uang yang menciptakan suatu tipe abstrak fiksasi libido. Kepentingan terhadap tanah sebaliknya mendorong munculnya perasaan kemengangan hidup dari kesuburan tanah melalui perjuangan pribadi dan melalui pemahaman terhadap bumi dan penduduk yang mengolahnya. 

Penciptaan perilaku yang tidak disenangi dalam masyarakat adalah masalah yang amat penting yang akan merepotkan kita terus-menerus. Ini dirangsang oleh kenyataan bahwa terdapat suatu mata rantai yang panjang yang menghubungkan antara langkah pertama dan yang terakhir dari aktivitas kita. Orang yang termasuk anggota partai sosialis misalnya, mungkin tidak pernah mempunyai kesempaatan untuk melihat atau memahami tujuan-tujuan dari gerakan yang mana ia termasuk salah seoraang diantara yang ingin mencapainya selama hayatnya. Dengan demikian bukan hanya kekayaan pribadi, tetapi setiap jenis kerjasama dan pembagian kerja meningkatkan kesempatan bagi perilaku yang abstrak, mengembangkan kapasitas untuk memperpanjang ketegaangan antara keinginan-keinginan dan pemenuhannya. 

Integrasi sosial dari keinginan dan sikap sangat besar perbedaannya daripada pengintegrasian kepentingan. Pengintegrasian kepentingan itu sebgaian besar terbentuk melalui kompromi, yang berarti bahwa orang yang mempunyai kepentingan yang serupa misalnya yang berkompetisi untuk mendapatkan suatu keuntungan, melepaskan sebagian dari keuntungan mereka atas dasar persetujuan rasional. Keseluruhan pertukaran secara barter dilakukan dalam suatu penolakan terhadap keuntungan yang diharaapkan dalam setiap jenis perserikatan adalah merupakan hasil dari pengintegrasian kepentingan. 

Pengintegrasian sikap sebaliknya terbentuk atas dasar identifikasi secara langsung. Ini berarti bahwa kita mengidentifikasikan diri kita sendiri dengan anggota lainnya dari komunitas dan juga antara komunitas yang satu dengan yang lain. Masyarakat modern membentuk kepentingan jangka panjang, cenderung menekan elemen libido dari bidang kegiatan publik dan dari pekerjaan, dan ini mungkin merupakan suatu handikap yang serius dalam aktivitas sosial tertentu dan dalam situasi sosial tertentu.

 Jump to Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (ISBD) BAB III 

Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (ISBD) BAB III

Mata Kuliah Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar (ISBD)
 
BAGIAN KEDUA PROSES-PROSES SOSIAL YANG PALING MENDASAR

BAB III
KONTAK SOSIAL DAN JARAK SOSIAL 

Kini kita tidak lagi membicarakan perlengkapan psikologis dari kehidupan individual tetapi memusatkan perhatian terhadap proses-proses sosial yang mendasar, yyang serta merta mempegaruhi perkembangannya. Di sini hanya akan dibahas sedikit saja dari proses sosial yang mendasar itu, namun demikian pentingnya sehingga tak ada kehidupan individual dan kehidupan sosial yaang dapat dijelaskan dengan sempurna tanpa pengetahuan yang mendasar itu. Proses yang dimaksud, sebagai contohnya ialah kontak sosial, dan isolasi sosial.
Sosiolog yang hanya lebih mengutamakan mempelajari fenomena yang disebut ‘masyarakat luas’ (Great Society) seperti mobilitas sosial, stratifikasi sosial, dan pranata sosial, tanpa mwnghubungkan studinya dengan penyelidikan yang cermat terhadap proses sosial yang mendasar ini kemungkinan besar belum dapat menampilkan suatu analisa setepatnya bagaimana mestinya.

1. KONTAK PRIMER DAAN KONTAK SEKUNDER
Kita mesti membedakan dua jenis kontak sosial. Pertama, kontak primer, yakni kontak yang dikembangkan secara intim dan mendalam berupa pergaulan tatap muka di mana hubungan secara visual dan perasaan-perasaan yang berhubungan dengan pendengaran senantiasa digunakan. Kedua, kontak sekunder, yakni kontak yang ditandai oleh pengaruh keadaan luar dan jarak yang lebih besar. Orang yang secara mental terbentuk oleh kontak primer, dan oleh ide-ide primer, mengembangkan ciri-ciri yang berbeda daripada mereka yang di bentuk oleh kontak sekunder. Sekedar contoh, dapat dibandingkan antara seorang wanita yang fungsi utamanya sebagai nyonya rumah tangga dan sebagai seorang ibu dengan seorang manajer pabrik atau dengan seorang politisi. Sudah tentu terdapat hubungan antara ciri-ciri kepcribadian yang dikembangkan melaui kontak primer dan kontak sekunder. Keinginan untuk menghargai publik selalu terjadi sebagai pemindahan faktor psikologis, sekurang-kurangnya sebagian, sebagai pengganti keterbatasan keintiman dari tanggapan yang dialami ditengah-tengah kehidupan keluarga. 

Jelas kiranya bahwa kawasan tempat berlangsungnya kontak sekunder yang sebenarnya adalah dalam kehidupan kekotaan. Revolusi industri yang melahirkan kota-kota dan yang memecah kehidupan sosial seperti kehidupan masyarakat desa menjadi unit-unit kecil, merupakan faktor yang sangat penting dalam menciptakan sebagian besar antar hubungan yang bersifat abstrak dan impersonal. Kontak sekunder, dengan demikian mendorong terciptanya sikap-sikap yang abstrak. Kontak sekunder ini juga memungkinkan kita untuk membandingkan kepentingan jangka panjang dan yang penuh perhitungan, karena kecenderungan-kecenderungan dapat diperkirakan dan disusun, demikian pula sistem kontrol yang baru terhadap publik dapat diperbuat dan dipergunakan dengan menekankan kepada segi-segi perbedaan peranan yang dimainkan mereka seperti membedakan mereka selaku pembayaran pajak atau selaku buruh atau majikan. Situasi hubungan tatap muka, yang menandai kontak primer, dewasa inipun telah mengalami perubahan.

2. KONTAK BERDASARKAN SIMPATI DAN BERDASARKAN KATEGORIS
Klasifikasi lain dari kontak sosial, dapat pula dibuat atas dasar sudut pandangan psikologis dan sosiologis. Orang yang tidak termasuk ke dalam kelompok kita sendiri, tidak termasuk ke dalam bidang kontak primer kita. Kita tidak menganggap mereka sebagai anggota kelompok kita yang sesungguhnya tetapi kita membuat penggolongan atau kategori terhadap mereka. Ini berarti bahwa kita mengklasifikasikan mereka dalam pengertian perbedaan derajat simpati atau antipati terhadap mereka. Di sini kita berhadapan dengan dasar atau asal mula dari prasangka. Perasaan simpati berhubungan dengan perbedaan kategori dan kelompok-kelompok menciptakan apa yang dapat kita klasifikasikan misalnya sebagai: ‘orang negro’, ‘orang Jerma’, ‘orang Yahudi’, ‘orang asing’, ‘orang luar’, ‘mereka’, dan sebagainya. 

Fase permulaan proses kategori ini terdapat pada jenis primitif dari penyesuaian diri. Kita mulai dengan menunjukkan atau menentukan kelompok kita sendiri dengan tanda-tanda yang baik, disebabkan karena kita tidak mampu menghadapi setiap obyek yang kontak dengan kita, maka kita membedakan dan memisah-misahkannya. Selanjutnya jika kita pertama kali bertemu dengan seorang manusia yang belum kita kenal, biasanya kita merasakan suatu perasaan simpati atau antipati secara tiba-tiba. Ini jelas adalah suatu interpretasi dari sikap-demikian pula lazimnya dalam dunia binatang-dimana simpati dan antipati adalah sejenis alat untuk menseleksi pengalaman-pengalaman yang tepat. Pengertian kita, dalam sebagian besar kasus adalah ditentukan oleh gagasan dan prasangka yang kita miliki. Dasar alamiah dari prasangka adalah suatu kecenderungan untuk mencocokkan pengalaman-pengalaman baru ke dalam kategori yang lama dengan mempergunakan generalisasi yang mula-mula untuk menanggulangi pengalaman baru itu. Setiap pengalaman yang nyata, didasarkan atas kontak yang dekat dan langsung atau primer. Pengertian atau pemahaman, adalah suatu pertarungan antara penyesuaian diri segera terhadap versi baru dari pengalaman dan kecenderungan terhadap prasangka. Orang yang selalu bergerak secara sosial dan secara geografis ( mobilitas vertikal dan horizontal), lebih kritis dan lebih tidak memihak dalam menilai orang lain, dan dengan demikian kurang berprasangka karena pengalamannya itu di pergunakannya untuk berhubungan dengan bermaca-macam orang lain. Seperti kita ketahui, orang yang berurat berakar di satu tempat tertentu saja, lebih tinggi derajat prasangkanya dibandingkan dengan orang yang banyak bergerak tersebut diatas. Orang yang banyak bergerak (mobile) dapat lebih mudah beralih dari pengalaman-pengalaman kategori kepada pengalaman-pengalaman spesifik. Kesan atau impresi penting pertama yang kita peroleh dari kehidupan kota besar itu bereaksi terhadap kesadaran diri sendiri dan terhadap penilaian diri sendiri. Kesadaran diri sendiri penduduk kota besar tidak stabil dan tidak kaku. Sedangkan dalam kehidupan masyarakat desa, prestise atau gengsi didasarkan atas siapa orang tua kita, dari keluarga mana kita berasal, daan dimana posisi kita dalam komunitas desa itu. Dalam kehidupan kota besar, prestise sebagian besar didasarkan atas hasil usaha (achievement) personal. Sebagai akibatnya penduduk kota besar selalu lebih mengisolasi dirinya dan penilaian terhadap dirinya sendiri di-internalisasikan. 

Akibat dari kenyataan serupa ialah fleksibelitas, tetapi juga ketidak-stabilan, ketidak-sungguhan, dan skeptisme yang terdapat dalam watak penduduk kota besar. Selanjutnya individu yang relatif anonim sifatnya dalam kehidupan kota besar, memperluas lingkungan kehidupan sehingga memungkinka kita untuk memindahkan sebagian tanggungjawab kita kepada orang lain atau kepada institusi lain. Sebagai akibatnya, orang kian lama kian menjadi penonton saja terhadap situasi yang ada. 

Dalam hubungan persahabatan sejati, unsur penggolong-golongan yang terdapat dalam kontal personal, tidak muncul. Persahabatan sejati ini didasarkan atas hubungan simpati yang berarti suatu keinginan untuk mengidentifikasikan kepentingan. Ungkapan ‘kita’ secara tak langsung menyatakan adanya saling mengidentifikasikan diri masing-masing dan difusi kepribadian. Ungkapan ‘tetangga kita’ dalam pengertian tertentu, pada dasarnya berarti kita sendiri. Semakin individualis seseorang, semakin sukar baginya untuk berusaha mengidentifikasikan dirinya dengan orang lain. Malahan, perasaan yang mendua atau bercabang biasanya muncul ditengah-tengah pengidentifikasian diri, dan masing-masing cabang perasaan itu besar perbedaannya. Persahabatan dan perkawinan, adalah dua jenis antara hubungan yang sedikit banyak berhasil menyalurkan atau menyatukan perasaan yang bercabang itu. 

Tempat pengalaman yang paling awal dari kesatuan sosial dan identifikasi, terdapat pada kelompok primer atau kelompok tatap muka seperti keluarga, kelompok teman sepermainan, hubungan tetangga, klub, masyarakat faternal atau sekolah. Perasaan cinta, kepahlawanan dan keberanian, begitu juga mabisi, kesombongan dan dendam kesumat, kesemuanya dibentuk di dalam kelompok primer. Menurut C.H. Cooley, perasaan cinta kemerdekaan dan keadilan yang merupakan cita-cita primer yang mendasari ajaran kristen demokrasi dan sosialisme, ketiganya didasarkan atas ide-ide dari kelompok primer. 

Kontak di dalam dan di luar kehidupan kelompok, telah dianalisa oleh sosiolog seperti Sumner, Cooley, dan Burgess. Menurut mereka, hubungan simpati internal yang egotisme kelompok menghasilkan dua standar perasaan yang berbeda. Di satu pihak, kemauan baik, kerjasama, dan saling percaya di antara sesama anggota kelompok sendiri. Di lain pihak, perasaan bermusuhan dan kecurigaan terhadapanggota kelompok lain. Hubungan persaudaraan di kalangan anggota kelompok sendiri dan perasaan bermusuhan terhadap anggota kelompok lain atau terhadap ‘out-group’ adalah dua hal yang saling berhubungan. Perlawanan dan permusuhan yang gawat terhadap orang asing atau terhadap kelompok lain, memperkuat solidaritas di kalangan sesama anggota kelompok sendiri sehingga perselisihan yang terjadi di kalangan internal kelompok sendiri, tidak dapat melemahkan permusuhan itu. 

Etnosentrisme adalah istilah teknis yang dipakai untuk mengungkap sikap serupa itu. Bagi anggotanya, kelompok sendiri adalah segala-galanya. Setiap kelompok etnosentrisme memelihara dan mempertahankan rasa harga diri, kesetiaan, kesombongan, dan perasaan superioritas yang dimilikinya sendiri, mengagung-agungkan Tuhan-nya sendiri serta memandang dengan perasaan jijikdan mencela terhadap segala sesuatu yang dimiliki kelompok lain. Kejijikan itu diekspresikan dengan memakai kata-kata yang menghina, dengan menyebut dan menandai kelompok lain itu sebagai ‘pemakan babi’, ‘tak bersunat’, pemakan lembu’, daan sebagainya. Apa yang mendasari penilaian demikian itu, mungkin dapat kita sebut dengan istilah ‘moralitas kafir’. Atas dasar mengkafirkan kelompok lain nasionalisme, juga didasarkan atas sikap prasangka dan moralitas kafir demikian itu.

3. JARAK SOSIAL
Dalam setiap kontak sosial, secara tak langsung menyatakan suatu jarak sosial. Jarak sosial itu mungkin berati jarak eksternal atau jarak internal atau jarak mental. Seluruh jenis dan aneka ragam kehidupan sosial dan kultural tak kan dapat dijelaskan dengan memadai tanpa mengkategorikan jarak sosial. Tanpa jarak sosial, takkan ada obyek dan takkan ada kehidupan sosial itu sendiri. Pengambilan jarak, pada waktu bersamaan adalah salah satu dari pada perilaku yang penting untuk mempertahankan dan untuk melanjutkan otoritas peradaban manusia. Demokrasi mengurangi jarak sosial. Prestise-prestise komandan ketentaraan misalnya sebagian besar adalah persoalan jarak sosial. Secara harfiah jarak sosial berarti mengubah barang sesuatu menjadi terpencil, memindahkan suatu obyek yang dekat kepada suatu posisi yang jauh dari titik semula. Perkataan ‘jarak’ berasal dari pengalaman langsung kita terhadap ruang. Anehnya ialah bahwa pengalaman mngenai ruang juga menyediakan pola bagi pengalaman mental. Behawa seseorang berada pada jarak 5 meter dari saya misalnya, adalah suatu pengalaman tentang ruang; tetapi jika saya mengatakan bahwa seseorang mempunyai jarak sosial dari saya, maka ini berarti bahwa saya mempunyai status sosial yang lebih tinggi atau lebih rendah dari orang yang bersangkutan. Ada persamaan tertentu antara kedua jenis jarak ini meskipun keduanya tidaklah identik. Ahli sosiologi berbicara tentang penciptaan jarak buatan. Lalu apa gerangan yang dimaksudkannya? Jarak mengenai ruang, yang dapat diukur dengan mudah dalam arti pisik adalah dapat diubah melalui suatu tindakan dengan sengaja oleh manusia, menjadi barang sesuatu yang dapat disebut jarak mental. Pengurangan identifikasi termasuk ke dalam penciptaan jarak mental ini. Bergerak dari tindakan-tindakan yang intim dan simpatik menuju pengasingan diri tanpa perlu menerapkan tingkah laku yang menggolong-golongkan atau yang bersifat menyerang. 

Baiklah saya berikan contoh di sini di lapangan yang murni pengalaman yang berhubungan dengan panca-indera tentang bagaimana proses yang fundamental dari pengambilan jarak itu dapat di selidiki. Seorang pelaut dalam pelayarannya menuju pelabuhan, mungkin pertama kali menyenagi pemandangan yang jelas terhadap kota pelabuhan yang terletak di depannya di kejauhan. Tiba-tiba keseluruhan penglihatannya berubah menjadi jauh disebabkan karena adanya kabut. Sebenarnya kota pelabuhan itu tidaak lebih jauh dari pada jarak sebelumnya tetapi kabut telah menciptakan suatu kepalsuan ilusi, seakan-akan kota pelabuhan itu sedemikian jauhnya dalam penglihatan pelaut itu. Dalam contoh ini, jarak bukanlah di ciptakan oleh subyek, melainkan oleh halimum atau kabut. Keseluruhan jarak mentaal yang akan kita bicarakan berikut ini berasal dari spontanitas subyek; yang dalam kenyataannya kesemuanya diciptakan oleh subyek. 

Evolusi jarak mental dari jarak ruang dapat ditunjukkan dengan jelas dalam kasus ketakutan. Kenyataan, jarak yang disebabkan karena rasa takut adalah jarak yang paling sederhana. Jika saya tetap mempertahankan jarak ruang antara saya dengan orang lain yang lebih kuat dari saya, maka dalam jarak ruang antara kami ini, berisi jarak mental dari rasa takut itu. Binatang yang dikurung, dalam situasi tertentu masing-masing memelihara jarak ruang terhadap yang relatif lebig kuat secara proporsional. Makin pengecut binatang itu, makin jauh jarak ruang yang diambilnya terhadap binatang yang ditakutinya. 

Schjelderup Ebbe yang melakukan penyelidikan yang cermat, menyatakan adanya suatu hierarki yang teratur di kalangan kehidupan sosial binatang seperti di kalangan ayang betina, ayam jantan, dan anak ayam. Ebbe meneliti kehidupan ayam itu dalam kelompok yang terdiri atas 2-25 ekor dan kemudian terhadap kelompok yang terdiri atas 25-100 ekor. Menurutnya hal pertama yang dikemukakannya ialah bahwa selama mencari makan, selama memakan/makanan di pot makanan atau pergi bertengger untuk beristirahat atau pergi kesarang , ayam jantan melihatkan untuk bertelur, ayam jantan memperlihatkan suatu keteraturan yang pasti. Ayam yang terkuat atau paling jagoan, selalu yang mula-mula sekali datang ke tempat-tempat tersebut baru kemudian disusul oleh ayam yang lain menurut urutan tingkat keberaniannya terhaadap sesamanya. Seluruh tempat tersebut selalu diambil oleh ayam yang terkuat itu lebih dulu. Persoalan yang timbul ialah: bagaimana aturan itu dibentuk.? Penelitian menunjukkan bahwa aturan itu dibentuk melaui pertarungan antara sesamanya. Jika dua anak ayam bertemu maka pertama kali yang dilakukannya adalah membuat tingkatan sosial diantara mereka melalui pertarungan. Anak ayam yang lari pertama kali, akan menjadi taklukan untuk selama-lamanya. Dengan demikian, suatu urutan lengkap dapat disusun menurut hasil pertarungan itu dan terlihat pula bahwa hierarki ini dipertahankan dengan keras oleh ayam itu. Penelitian ini juga menemukan bahwa tingkatan yang teratur ini tidak mengikuti dengan keras perbedaan dalam segi kekuatan fisik tetapi mengikuti apa yang disebut superioritas psikolgi, di mana aspek keberanian sangat besar peranannya. Tetapi adalah suatu kenyataan pula bahwa ketakutan selalu memainkan peranan pula. 

Penyelidikan berikutnya mempelajari tingkahlaku khas dari ayam-ayam yang paling jagoan dan ayam yang ditaklukkannya. Terlihat adanya aturan umum bahwa ayam yang berada di puncak hierarki, dalam arti yang terkuat, lebih penuh dengan kebajikan debandingkan dengan ayam yang yang berada di tingkat menengah. Terlihat bahwa sekali jagoan itu mencapai tingkat jagoan dalam arti mengalahkan semua ayam lainnya, maka ia tak perlu lagi berkelahi untuk mempertahankan posisi jagoan itu. Dia menjadi jagoan untuk selamanya. Jarak psikologis telah terbentuk dan berlangsung secara stabil. Tetapi ayam berada di tingkat menengah hierarki, sangat agresif karena mereka khawatir dalam mepertahankan posisinya yang secara permanen terancam dari dua fron. Percobaan selanjutnya ialah untuk mengetahui bagaimana cara ayam tersebut bertingkah laku dalam mengubah kondisi. Jika kita mengambil seekor ayam jantan yang menjadi pemimpin dari satu kelompok lain dimana ia menjadi salah seekor yang berkedudukan sebagai anggota kelas mengengah, maka ternyata ia mengubah pola tingkahlakunya. Dari semula penuh kebajikan, kemudian berubah menjadi lebih agresif. Jelas ini disebabkan karena kekhawatiran dalam mempertahankan posisinya. Sebaliknya jika ayam yang paling jagoan dari satu kelompok besar kemudian digabungkan kedalam dan menjadi jagoan kelompok kecil, maka tingkahlakunya lebih penuh kebajikan dibandingkan dengan tingkahlakunya ketika berada pada posisi sebagai jagoan kelompok besar. Ujung dari penelitian ini melihat kemungkinan besar bahwa tingkahlaku ayam itu lebih banyak tergabung kepada posisi sosialnya dibandingkan dengan karakter bawaannya. 

Ebbe kemudian mencoba pula meneliti keteraturan jarak sosial dan tingkahlaku sosial di kalangan anak sekolah. Peneliti menemukan bahwa dalam suatu hierarki tertentu yang kesemuanya tak serupa dengan penilaian gurunya tetapi merupakan hasil ciptaan kehidupan kelompo anak sekolah itu. 

Jika pimpinan dari satu kelompok dimasukkan ke dalam kelompok lain dimana ia menjadi anggota kelas menengah disana, maka tingkahlakunya berubah. Dengan demikian di antara anak sekolah itu juga supaya tingkah lakunya tergantung kepada sosialnya secara individual dan juga kepada apa yang disebut: karakter, yang untuk sebagian besar merupakan hasil dari berbagai situasi sosial. 

Adalah jelas sekali trdapat tendensi umum tertentu yang melekat dalam kehidupan kelompok anak sekolah seperti itu yang berperan menurut aturan yang sama, wlaupun mereka di ubah oleh perlengkapan mental dari komposisi kehidupan kelompok. Salah satu perbedaan utama antara tingkah laku binatang dan tingkah laku manusia dalam kehidupan kelompok, terlihat dari kenyataan bahwa binatang tidak mampu mengatur tindakan yang menjurus ke arah perubahan secara revolusioner. Hanya ada pemberontakan secara individual yang ada dalam kehidupan kelompok binatang. Ayam yang ditaklukkan selalu berusaha meningkatkan posisinya melalui pertarungan baru terutama dalam kasus di mana ayam yang ditaklukkan itu tak harus inferior secara badaniah tetapi disebabkan karena ketakutan psikologis yang timbul. Dengan mengamati pertarungannya orang dapat melihat bahwa binatang yang ditaklukkan itu adalah sangat gelisah, ia berupaya untuk menciptakan kebiasaan dan membangun sikap takluk, menciptakan jarak ketakutan. Revesz, seorang peneliti di bidang sosiologi binatanng lainnya meneliti tingkah laku kera yang dikandangkan. Dikandang yang diamatinya itu terdapat seekor kera yang unggul, empat ekor yang lemah, dan seekor anak kera. Ketika makanan yang dibawa ke kandangnya, yang terjadi mula-mula ialah perebutan makanan menurut dorongan hati (impulse) masing-masing kera itu. Tetapi tingkah laku demikian segera membuka jalan bagi situasi di mana kera yang terkuat mampu memuaskan dirinya sendiri tanpa rintangan, sebagai kera utama. Kera lain yang rebut makanan yang ada ditepi tiba-tiba rupanya menyadari dan mengingat hasil pertarungan dan gigitan kera yang terkuat yang terjadi sebelumnya, sehingga kemudian mereka menghindar ke arah yang berlawanan dan mengakhiri perebutan makanan itu. Segera setelah hal ini terjadi, anak kera maju ke depan dan menempatkan dirinya berdekatan dengan kera yang terkuat, mulai memakan pisang yang tersedia dengan tenang tanpa digigit oleh sang jagoan. Sepanjang anak kera ini tidak mencampuri persaingan kera yang lain itu, maka ia menjadi seekor kera yang mendapat bagian dalam kompetisi, maka ia segera ditaklukkan dan akan sama nasibnya dengan kera lain yang berkompetisi. Jelas kiranya bahwa dalam setiap situasi yang khas, suatu jarak tertentu terus-menerus tercipta dengan sendirinya di kalangan kehidupan binatang itu. Di sini jarak ruang pada waktu bersamaan mengandung jarak ketakutan dan rasa hormat. Jarak obyektif cenderung dihubungkan dengan kualitas jarak mental. 

Ungkapan bahasa Jerman ‘drei Schritt von Leib’ (tiga langkah dari manusia) digunakan untuk menandai sikap pemeliharaan jarak dari seseorang menggambarkan dengan sempurna keadaan masyarakat dimana jarak ruang pada waktu bersamaan mengungkapkan ketakutan dan rasa hormat.langkah pertama ialah jarak normal antara anggota dari suatu masyarakat. Jarak dari tiga langkah selanjutnya, merupakan pemaksaan terhadap orang yang berada di luar kelompok dominan sebagai tanda dari status yang disubordinasikan di dalam hirarki masyarakat yang ketat. Jarak yang berlebih ini, yang dapat dipertentangkan dengan keadaan berkurangnya jarak menggambarkan keintiman. Keintiman yang berhubungan erta dengan keakraban dan kontak pisik yang terjadi antara individu dalam kelompok, sekali lagi menunjukkan kenyataan bahwa jarak obyektif cenderung berhubungan erat dengan kualitas jarak mental. 

Selama berlangsungnya proses diferensiasi, tipe-tipe jarak yang lebih kompleks muncul dari jarak ketakutan; sebagai contohnya adalah jarak kekuasaan. Jarak konvensional yang telah berkembang dengan cepat dalam suatu masyarakat sebagai tanggapan terhadap keperluan akan keamanan pribadi telah berkembang dengan cepat dalam suatu masyarakat senagai tanggapan terhadap keperluan akan keamanan pribadi telah berkembng dalam berbagai masyarakat menjadi suatu simbol antar hungan kekuasaan dan berpengaruh nyata terhadaap hiraarki sosial. 

Kita dapat membedakan tiga jenis jarak. Pertama, jarak yang menjamin terpeliharanya tata sosial dan hirarki sosial tertentu. Kedua, jarak eksistensial. Ketiga, jarak diri sendiri, yakni jarak yang diciptakan di dalam diri seseorang individu tertentu.

4. PEMELIHARAAN HIRARKI SOSIAL

Struktur hirarkis tata sosial, adanya kelas-kelas dantingkatan dalam kehidupan, dalam sebagian besar kasus ditunjang oleh sejenis jarak tertentu. Jarak yang jelas kelihatan di dalam pergaulan sosial dan di dalam penyelesaian obyek kultural yang dimiliki masyarakat, memelihara suatu stratifikasi sosial melalui peralatan mental yang cenderung menggantikan kedudukan kekuasaan. Sistem berpakaian yang sangat canggih dan tatakrama, gaya berbicara, sikap dan adat kebiasaan, dapat dipergunakan untuk memelihara jarak antara kelompok penguasa dan oraang yang dikuasainya. Tugas tersembunyi sistem tersebut ialah untuk menciptakan jarak dan dengan demikian untuk mengawetkan kekuasaan minoritas penguasa. 

Jarak digambarkan dengan sendirinya oleh bentuk pergaulan sosial dan oleh jarak obyek tertentu dalam lingkungan kebudayaan masyarakat tertentu. Pergaulan sosial, dapat terbentuk dalam dua cara. Pertam, dengan membatasi atau meniadakan kerjasama antara dua kelompok penguasa dan yang dikuasai. Misalnya dengan melarang perkawinan campuran antara aanggota kedua kelompok atau dengan memantangkan makan bersama pada satu meja atau dengan memantangkan makan suatu sistem kebiasaan yang canggih, yang menonjolkan jarak antara strata masyarakat yang berbeda. 

Melalui penyatuan mayoritas orang yang tertindas secara mendadak, maka setiap kelompok penguasa dapat digulingkan. Karena itu prinsip memecah-belah dan kemudian menguasai-devide and rule-selalu diikuti oleh kelompok penguasa dan bila pelaksanaan prinsip ini berhasil baik maka stabilitas sistem sosial yang ada akan terjamin. Namun demikian bukan hanya pergaulan sosial dimana masing-masing strata sosial dan antara strata sosial yang berbeda saja yang dikendalikan oleh jarak sosial itu. Obyek-obyek sosial dan lingkungan kultural pun dijaga jaraknya dengan cara yang sama. Jika kita mengamati masyarakat yang berbeda dan bertanya kepada diri sendiri: apakah yang dapat membuatnya mempunyai jarak, maka kita akan menemukan bahwa di keduanya terdapat baik manusianya seperti pemimpin dan raja maupun obyek-obyeknya seperti barang peninggalannya. Dalam masyarakat primitif mislanya, sifat ke-Tuhanan dari para pemimpinnya atau rajanya sebagian besar dipelihara melalui upacara seremonial yang rumit yang dapat melindungi pemimpin atau raja itu dan memisahkan mereka dari rakyat yang diperintahnya. Tokoh ‘orang suci’ sebaliknya menjadi orang yang dikeramatkan terutama karena ia meningkatkan jarak dan dengan demikian mengisolasikan dirinya dari pengikutnya. Selanjutnya pepatah-petitih dan peribahasa dapat sipisahkan dari pemakaian sehari-hari menjadi mantera-mantera, seperti kalimat yang dipetik dari kitab suci oleh seorang pendeta. Orang juga dapat memisahkan institusi dan organisasi atau bidang kehidupan dan aktifitas seperti kesenian atau hari libur. 

Ada kesamaan antara jarak sosial dan jarak obyek dari lingkungan kultural. Peningkatan nilai tertentu secara palsu dan menjaga jarak dalam kebiasaan sehari-hari ditopang oleh sistem yang sama. Ide kekesatriaan seperti kepahlawanan dan sopan santun, meningkatkan dan memisahkan pola perilaku tertentu dan meningkatkan kebutuhan yang tak dapat dipenuhi oleh orang kebanyakan. Jadi ide tersebut mempunyai fungsi sosial yang sama dengan jarak yang berperan dalam pergaulan sosial.

Evolusi demokrasi ditandai oleh kecenderungan baik dengan mengurangi jarak atau dengan mengubah metode pengambilan jarak. Sementara dalam masyarakat pra-demokrasi peraturan-peraturan keras menentukan cara-cara berpakaian yang boleh dikenakan oleh tingkat sosial yang berbeda, maka masyarakat demokrasi mengganti sistem yang usang itu dengan ‘mode’. Bertingkahlaku dan bergaul menjadi lebih bebas. Suatu proses penyamarataan ke atas dan ke bawah dikembangkan dan kebebasan menonjolkan diri untuk sebagian besar menggantikan peraturan seremonial tradisional. Hambatan terhadap kebebasan menonjolkan diri, juga dapat dipergunakan sebagai alat untuk mempertahankan jarak sosial. Dengan demikian, orang yang berada pada kedudukan yang lebih tinggi dapat membatasi diri mereka sendiri untuk mengawetkan jenis tingkah laku martabat tertentu.

5. JARAK EKSISTENSIAL
Jarak sosial jenis ini dapat diamati jika kita mengenyampingkan seluruh tindakan pengambilan jarak yang berasal dari pergaulan sosial. Dengan demikian akan terdapat suatu bentuk jarak tertentu yang lain dari jenis jarak sosial yang dapat ditunjukkan melalui contoh berikut. Jika seorang wanita dari kalangan yang sederhana mengunjungi seorang pendeta demi untuk maksud pengakuan dosa, maka baginya pendeta itu bukanlah sebagai seorang yang khas tetapi merupakan suatu kepribadian yang mencerminkan kemampuan untuk meningkatkan status sosial. Namun pada waktu bersamaan, wanita itu mungkin pula dipengaruhi oleh rasa keakrabannya terhadap si pendeta atau oleh perasaannya sendiri yang merasa sedemikian renggangnya dengan pendeta itu. Perasaan terakhir inilah yang kita sebut sebagai jarak eksistensial itu. Tetapi kedua topeng individual biasanyaa berpengaruh secara serentak. Proses demokratisasi lazimnya cenderung mengurangi jarak sosial dan membuka hubungan eksistensial yaang murni antara manusia.

Perbedaan-perbedaan eksistensial merupakan suatu antara hubungan antara individual yang lahir secara eksklusif dari kualitas kejiwaan manusia. Perbedaan eksistensial ini terlihat ketika seseorang sekonyong-konyong menyadari keintiman dirinya dengan orang lain, dan ia mengadakan kontak yang erat dengan batinnya yang paling dalam. Jarak eksistensial ini dalam sebagian besar masyarakat sejak lama dikacaukan dengan jarak sosial, mislanya dalam masyarakat berkasta. Kelahiran individualisme akhirnya merobek topeng sosial dari manusia.

6. PENCIPTAAN JARAK DALAM KEPRIBADIAN TUNGGAL
Seorang individu dapat berada sedemikian dekatnya atau jauh dari kepribadian sebenarnya yang dimilikinya, sama seperti ia juga dapat merasa dekat atau jauh dari kepribadian orang lain. Kita dapat mengamati dari dalam diri seseorang individu fenomena yang menunjukkan jauh-dekatnya seseorang dari kepribadiannya sendiri, yang dengan tiba-tiba kepribadiannya itu menjadi asing bagi dirinya sendiri. Abad demokrasi telah merusak jarak sosial, namun dengan demikian penonjolan jarak eksistensial menjadi lebih besar. Pengasingan diri sendiri yang terdapat dalam situasi kultural tertentu merintangi penonjolan diri sendiri secara individual. 

Pengambilan jarak adalah suatu faktor yang amat penting dalam mengubah struktur kekuasaan menjadi pola mental dan kultural. Sejaraah telah menunjukkan bahwa perubahan dalam gaya kultural berhubungan erat dengan perubahan dalaam struktur kekuasaan. Sosiologi kultural membahas masalah ini secara terperinci dan telah menemukan bagaimana organisasi kekuasaan dalam berbagai jenis perkembangan sejarah berpengaruh terhadap berbagai bentuk jarak mental.
  Jump to Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (ISBD) BAB IV 

auto::pagerank'